Namun, teknologi ini juga memiliki banyak risiko dan ketidakpastian yang belum diketahui.
Misalnya, dampaknya terhadap pola cuaca, siklus air, ozon, keanekaragaman hayati, produksi pangan, kesehatan manusia, dan konflik geopolitik.
Belum lagi masalah etika, hukum, dan tata kelola yang rumit.
Oleh karena itu, teknologi ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memahami potensi manfaat dan bahayanya.
Beberapa negara dan organisasi internasional telah menunjukkan ketertarikan untuk mendukung penelitian SRM, termasuk Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pada bulan Juli 2023, Gedung Putih merilis laporan tentang geoengineering Matahari yang menyatakan bahwa ada logika yang baik untuk mengeksplorasi teknologi ini.
Laporan tersebut menyerukan penelitian SRM untuk mengukur risiko spesifik dalam penerapan versus jika tidak menerapkannya.
Namun, laporan tersebut juga mengakui bahwa saat ini tidak ada rencana untuk meluncurkan program penelitian komprehensif tentang SRM.
Laporan tersebut juga menekankan bahwa SRM bukanlah pengganti dari upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim lainnya.