- F054952CEF20F0CD41E9111C0F7F3DC2

Dua Pesawat TNI AU Jatuh di Pasuruan, Empat Korban Tewas

  • Bagikan
Penampakan badan pesawat Super Tucano yang jatuh di Pasuruan. (Foto: x @merapi_undercover)

Indo1.id – Dua pesawat TNI AU berjenis Super Tucano jatuh dan meledak di daerah Keduwung, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (16/11/2023).

Dua pesawat tersebut teregistrasi dengan nomor TT-3111 dab TT-3103 yang membawa masing-masing dua awak.

Kejadian ini menewaskan empat orang, yaitu dua pilot dan dua co-pilot yang berada di dalam pesawat.

Kronologi Kejadian

Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama R Agung Sasongkojati, dua pesawat tersebut tengah melakukan latihan terbang rutin di wilayah Lanud Abdulrachman Saleh, Malang. Pesawat tersebut lepas landas sekitar pukul 11.00 WIB dan berencana kembali mendarat sekitar pukul 12.00 WIB.

Namun, saat pesawat berada di atas kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TBNTS), Desa Keduwung, Kecamatan Puspo, Pasuruan, terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Pesawat-pesawat tersebut hilang kontak dengan menara pengawas dan kemudian jatuh dan meledak di lereng gunung Bromo.

“Kami masih menyelidiki penyebab kecelakaan ini, apakah karena faktor cuaca, teknis, atau human error. Kami juga masih mencari kotak hitam pesawat untuk membantu penyelidikan,” kata Agung saat dihubungi awak media, Kamis.

Baca Juga :  Pesawat Boeing 737 Berpenumpang 180 Orang Jatuh di Iran

Identitas Korban

Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) TNI AU, Marsma R Agung Sasongkojati   menjelaskan pilot dari pesawat Super Tecano TT-3111 adalah Letkol Candra Gunawan dan awaknya yaitu Kolonel Adm Widiyono.

“Pesawat kedua TT-3103 pilotnya Mayor Penerbang Yudha Aseta dengan back sitter-nya adalah Kolonel Penerbang Suban,” katanya.

Keempat korban merupakan anggota Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, yang bertugas sebagai instruktur penerbang.

Jenazah korban telah dievakuasi dan dibawa ke Lanud Abdulrachman Saleh untuk dilakukan proses identifikasi dan autopsi.

Ucapan Belasungkawa

Presiden Joko Widodo menyampaikan ucapan belasungkawa kepada keluarga korban dan TNI AU atas kecelakaan ini.

Presiden juga memerintahkan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto untuk menangani kecelakaan ini dengan baik.

“Saya turut berduka cita atas gugurnya empat penerbang TNI AU dalam kecelakaan pesawat Super Tucano di Pasuruan. Saya berharap keluarga korban diberi ketabahan dan kesabaran. Saya juga meminta agar penyelidikan kecelakaan ini dilakukan secara transparan dan akuntabel,” kata Presiden dalam keterangan pers di Istana Merdeka, Kamis.

Baca Juga :  Kepala Satuan Narkoba Polres Jakarta Timur, Ditemukan Tewas Mengenaskan Di Rel Kereta Jatinegara

Sementara itu, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Fadjar Prasetyo mengatakan bahwa TNI AU akan memberikan bantuan dan perlindungan kepada keluarga korban.

Ia juga mengatakan bahwa TNI AU akan mengevaluasi standar operasional prosedur (SOP) penerbangan untuk mencegah kecelakaan serupa terulang.

“Kami sangat berduka atas musibah ini. Kami akan memberikan hak-hak dan kesejahteraan kepada keluarga korban sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kami juga akan melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap SOP penerbangan kami, agar tidak ada lagi korban jiwa akibat kecelakaan pesawat,” ujar Fadjar.

Profil Pesawat Super Tucano

Pesawat Super Tucano adalah pesawat latih tempur yang diproduksi oleh perusahaan Brasil, Embraer.

Pesawat ini memiliki panjang 11,38 meter, lebar sayap 11,14 meter, dan tinggi 3,97 meter.

Baca Juga :  KPK Panggil Staf Sekretaris MA dan Windy Idol Terkait Kasus Suap

Pesawat ini mampu terbang dengan kecepatan maksimum 590 km/jam dan jangkauan 1.541 km.

Pesawat ini dilengkapi dengan mesin turboprop Pratt & Whitney Canada PT6A-68C, yang mampu menghasilkan daya 1.600 shp.

Pesawat ini juga dilengkapi dengan sistem avionik modern, seperti head-up display (HUD), multi-function display (MFD), dan hands on throttle and stick (HOTAS).

Pesawat ini dapat membawa berbagai jenis senjata, seperti meriam 12,7 mm, roket 70 mm, bom 250 kg, dan rudal udara-ke-udara AIM-9 Sidewinder.

Pesawat ini dapat digunakan untuk berbagai misi, seperti latihan, pengintaian, penyerangan, dan dukungan udara dekat.

TNI AU memiliki 16 unit pesawat Super Tucano, yang dibeli sejak tahun 2010. Pesawat ini ditempatkan di Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh dan Skadron Udara 11 Lanud Roesmin Nurjadin.

Pesawat ini digunakan untuk melatih penerbang pesawat tempur, serta untuk mendukung operasi militer di wilayah perbatasan dan Papua.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan