Di Balik “Remang-Remang” Parung: Antara Nafkah, Stigma, dan Realitas yang Tak Pernah Sederhana

  • Bagikan
ilustrasi

Indo1.id – Malam mulai turun di Parung.

Lampu-lampu kecil menyala di sepanjang jalan, sebagian terang, sebagian lain redup—nyaris seperti berusaha bertahan dari gelap yang lebih besar.

Di titik-titik tertentu, deretan warung mulai hidup. Kursi plastik ditata, termos air panas disiapkan, dan aroma kopi bercampur asap rokok perlahan mengisi udara.

Di sinilah istilah “warung remang-remang” menemukan bentuknya—bukan sekadar cerita, tapi pemandangan nyata.

Antara Warung dan Persepsi

Dari dekat, tidak semua yang terlihat sesuai dengan narasi yang beredar.

Beberapa warung benar-benar hanya tempat makan sederhana.
Penjualnya menyapa ramah, menawarkan kopi, mie instan, atau gorengan.

Namun di beberapa titik lain, suasana memang berbeda.
Interaksi lebih cair, lebih personal, dan kadang sulit dijelaskan hanya sebagai “warung biasa.”

Baca Juga :  Hari No Bra: Peringatan untuk Meningkatkan Kesadaran tentang Kanker Payudara

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan,
“Ya memang ada yang begitu. Tapi jangan disamaratakan semua. Banyak juga yang murni jualan.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi terasa seperti upaya membela sesuatu yang sudah lama kalah oleh stigma.

Suara dari Balik Meja Warung

Seorang perempuan paruh baya, sebut saja Rina, duduk di balik meja kayu kecil. Ia mengaku sudah berjualan lebih dari lima tahun.

“Kalau siang sepi. Malam baru ada pembeli,” katanya singkat.

Ketika ditanya soal label “remang-remang”, ia hanya tersenyum tipis.

Baca Juga :  The Harvest Moon, Fenomena Bulan Purnama Terakhir di Tahun 2023 yang Memukau

“Mau gimana lagi, orang luar taunya begitu. Padahal saya cuma jual kopi sama rokok.”

Di sisi lain, ada juga cerita yang berbeda.

Seorang pengendara ojek online mengaku sering mendapat order ke titik-titik tertentu di malam hari.

“Ya, ada aktivitas lain juga. Tapi ya itu… semua orang juga tahu, cuma nggak semua ngomong.”

Di sinilah realitas mulai terlihat berlapis—tidak hitam putih, tapi abu-abu.

Ekonomi Malam yang Sulit Dihentikan

Secara kasat mata, aktivitas malam di Parung bukan sekadar fenomena sosial—ini juga soal ekonomi.

Warung-warung kecil ini:

  • bergantung pada arus kendaraan malam
  • melayani pekerja, sopir, hingga pengguna jalan
  • menjadi sumber penghasilan utama bagi banyak keluarga
Baca Juga :  Siapa Sejatinya Sabdo Palon dan Naya Genggong?

Ketika siang tidak cukup memberi pemasukan, malam menjadi satu-satunya pilihan.

Namun pilihan itu datang dengan harga:
stigma yang terus menempel.

Pengawasan yang Tidak Konsisten

Beberapa warga menyebut adanya razia atau penertiban dari waktu ke waktu. Namun, efeknya seringkali tidak bertahan lama.

“Kalau ada penertiban, ya tutup sebentar. Nanti buka lagi,” ujar seorang warga lain.

Fenomena ini menunjukkan satu hal:
penanganan yang ada belum menyentuh akar persoalan.

Selama kebutuhan ekonomi tetap ada, dan permintaan tetap hidup, aktivitas serupa akan terus muncul—dengan atau tanpa label.

  • Bagikan