Wisata Religi ke Makam Sunan Tembayat Klaten, Menelusuri Jejak Penyebar Islam di Jawa
- account_circle Nugroho
- calendar_month Minggu, 25 Jun 2023
- print Cetak

Gapura Pamuncar, Makam Sunan Tembayat Bayat Klaten. (Foto: Pribadi)
Indo1.id – Makam Sunan Tembayat atau Sunan Bayat adalah salah satu destinasi wisata religi yang terletak di Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Makam ini merupakan tempat peristirahatan terakhir dari Sunan Tembayat, salah satu penyebar agama Islam di Jawa Tengah yang hidup pada abad ke-16.
Sunan Tembayat memiliki nama asli Ki Ageng Pandanaran II, yang merupakan Bupati Semarang yang kedua setelah Ki Ageng Pandan Arang.
Sunan Tembayat juga dikenal sebagai pendiri Kota Salatiga, yang berasal dari kata “salah tiga”, yang merujuk kepada tiga orang penyamun yang menjadi pengikut setianya.
Makam Sunan Tembayat memiliki arsitektur yang unik dan menarik, yaitu gabungan antara gaya Hindu dan Islam.
Hal ini terlihat dari adanya enam gapura atau pintu masuk yang berbentuk candi bentar dan paduraksa, yang merupakan ciri khas bangunan Hindu.
Gapura-gapura ini juga terbuat dari batu putih yang dipahat, seperti candi-candi pada masa itu.
Makam Sunan Tembayat dibangun pada masa Kerajaan Mataram Islam, sekitar abad ke-16 hingga 17. Hal ini diketahui dari prasasti-prasasti yang ada di gapura-gapura tersebut, yang menggunakan angka tahun Saka.
Prasasti pertama berada di Gapura Segara Muncar, yang menunjukkan tahun 1448 Saka atau 1526 Masehi.
Prasasti keempat berada di Gapura Panemut, yang menunjukkan tahun 1555 Saka atau 1633 Masehi.
Makam Sunan Tembayat menjadi salah satu tempat ziarah yang cukup populer di kalangan umat Islam, terutama para santri dari berbagai pondok pesantren.
Makam ini diyakini memiliki nilai sejarah dan spiritual yang tinggi, serta menjadi saksi bisu penyebaran Islam di Jawa Tengah.
Selain makam Sunan Tembayat, di kompleks pemakaman ini juga terdapat makam-makam lainnya, seperti makam keluarga dan kerabat Sunan Tembayat, makam para ulama dan kyai, serta makam para pejuang kemerdekaan.
Di sini juga terdapat sebuah masjid tua yang masih digunakan untuk beribadah.
Wisata religi ke makam Sunan Tembayat tidak hanya memberikan pengalaman spiritual, tetapi juga edukasi sejarah dan budaya.
Di sini, kita dapat melihat bagaimana Islam masuk dan berkembang di Jawa Tengah, serta bagaimana pengaruhnya terhadap arsitektur dan seni bangunan.
Untuk menuju makam Sunan Tembayat, kita dapat menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum.
Dari pusat Kota Klaten, jaraknya sekitar 10 kilometer. Dari Desa Paseban, kita harus menaiki bukit Jabalkat dengan jalan kaki atau menggunakan ojek motor.
Di sepanjang jalan menuju makam, kita dapat menikmati pemandangan alam yang indah dan sejuk, serta melihat rumah-rumah joglo khas Jawa.
Di sekitar makam Sunan Tembayat juga terdapat banyak kios-kios yang menjual makanan dan minuman khas Klaten atau Desa Paseban.
Salah satu makanan yang terkenal adalah tempe mendoan bayat, yaitu tempe goreng tepung yang disajikan dengan sambal pedas.
Selain itu, ada juga oleh-oleh khas seperti keripik bayam dan keripik singkong.
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar