Model ini biasanya dianut oleh masyarakat Jawa yang terpengaruh oleh gerakan-gerakan reformis Islam, seperti Muhammadiyah, Persis, dan Wahabi.
– Model akomodatif: model ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa mencoba untuk menyesuaikan agama Islam dengan unsur-unsur budaya lokal yang dianggap tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Model ini biasanya dianut oleh masyarakat Jawa yang terpengaruh oleh gerakan-gerakan moderat Islam, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Al-Irsyad, dan Nurcholish Madjid.
– Model kritis: model ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa mencoba untuk mengkritisi agama Islam dari perspektif budaya lokal yang dianggap memiliki nilai-nilai universal.
Model ini biasanya dianut oleh masyarakat Jawa yang terpengaruh oleh gerakan-gerakan progresif Islam, seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ahmad Syafii Maarif, dan Komunitas Utan Kayu.
Daniels menyimpulkan bahwa hubungan antara agama Islam dengan budaya Jawa adalah hubungan yang terus berkembang seiring dengan perubahan sosial, budaya, dan politik di Indonesia.
Ia juga menyimpulkan bahwa hubungan ini memiliki potensi untuk membangun integrasi nasional yang berbasis pada keragaman dan toleransi.