Mitos Alas Roban, Jalur Angker dan Misterius di Batang
- account_circle Nugroho
- calendar_month Rabu, 20 Sep 2023
- print Cetak

Salah satu sudut di jalur Alas Roban, di Gringsing, Batang, Jawa Tengah. (Foto: instagram @jack_pantura_angga)
Indo1.idΒ – Alas Roban merupakan salah satu jalur Pantura yang terletak di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Jalur ini menghubungkan Kota Batang dan Semarang, dan melintasi kawasan hutan jati yang luas.
Namun, di balik keindahan alamnya, Alas Roban menyimpan berbagai mitos yang membuatnya dikenal sebagai jalur angker dan misterius.
Mitos pertama adalah tentang asal-usul nama Alas Roban. Menurut cerita rakyat, nama Alas Roban berasal dari kata “roban” yang berarti “robek”.
Hal ini dikaitkan dengan legenda pembukaan jalan ini oleh tentara Belanda pada zaman kolonial.
Konon, tentara Belanda memaksa para pekerja lokal untuk membelah bukit dan hutan dengan alat seadanya.
Banyak pekerja yang meninggal karena kelelahan dan penyiksaan, dan mayat-mayat mereka dibiarkan tergeletak di pinggir jalan.
Mitos kedua adalah tentang warung gaib yang konon ada di tengah-tengah Alas Roban.
Warung gaib ini dikatakan sebagai tempat berkumpulnya makhluk halus yang tinggal di sekitar hutan.
Beberapa pengendara yang pernah melewati jalur ini mengaku pernah melihat warung tersebut, tetapi ketika mereka mencoba mendekat, warung itu menghilang.
Ada juga yang mengaku pernah mampir ke warung itu dan memesan makanan atau minuman, tetapi ketika mereka hendak membayar, mereka tidak menemukan siapa pun di balik meja kasir.
Mitos ketiga adalah tentang sendang keramat yang terletak di dekat Alas Roban.
Sendang keramat ini dipercaya sebagai mata air bagi para siluman yang berwujud wanita cantik.
Mereka sering keluar dari sendang pada malam hari untuk mencari mangsa. Mangsa mereka biasanya adalah para pengendara yang lewat di jalur Alas Roban.
Para siluman ini akan menampakkan diri sebagai wanita cantik yang sedang menumpang atau minta tolong.
Jika pengendara tertipu dan menghentikan kendaraannya, maka mereka akan dibawa ke sendang dan dimakan oleh para siluman.
Mitos keempat adalah tentang bajing loncat yang sering mengganggu para pengendara di Alas Roban.
Bajing loncat adalah sejenis hewan mirip tupai yang bisa melompat-lompat dengan cepat.
Mereka sering muncul di depan kendaraan dan membuat pengendara kaget atau terkejut.
Banyak kecelakaan yang terjadi akibat bajing loncat ini.
Ada yang mengatakan bahwa bajing loncat ini sebenarnya adalah jelmaan dari makhluk halus yang sengaja ingin mengganggu atau merugikan manusia.
Mitos kelima adalah tentang kewajiban membunyikan klakson ketika melewati Alas Roban.
Masyarakat setempat percaya bahwa membunyikan klakson adalah bentuk salam atau hormat kepada para penunggu hutan.
Jika pengendara tidak membunyikan klakson, maka mereka akan mendapat gangguan atau bencana dari makhluk halus.
Gangguan itu bisa berupa suara aneh, penampakan sosok menyeramkan, rem blong, ban bocor, mesin mati, atau hal-hal lainnya.
Mitos-mitos yang berkembang tentang Alas Roban membuat jalur ini menjadi salah satu jalur terangker dan menyeramkan di Jawa Tengah.
Banyak pengendara yang menghindari jalur ini, terutama pada malam hari.
Namun, ada juga yang penasaran dan ingin membuktikan kebenaran dari mitos-mitos tersebut.
Bagaimana dengan Anda?
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar