Prabowo Perintahkan Operasi Total Atasi Karhutla, Asap Jadi Ancaman Serius
- account_circle Hanken Arya
- calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
- print Cetak

Presiden RI Prabowo Subiyanto
Indo1.id – Presiden Prabowo Subianto memerintahkan penguatan operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia. Pemerintah meningkatkan koordinasi lintas instansi untuk mempercepat pemadaman sekaligus mengurangi dampak asap terhadap masyarakat.
Penanganan karhutla di Sumatra dan Kalimantan menjadi perhatian karena dampaknya tidak hanya menyangkut kerusakan lingkungan, tetapi juga kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas penerbangan, dan hubungan dengan negara tetangga.
Dalam perkembangan pada Senin, 12 Oktober 2026, Prabowo menggelar rapat terbatas bersama jajaran menteri, TNI, Polri, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengevaluasi penanganan kebakaran serta membahas tawaran bantuan dari negara tetangga.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman menyampaikan bahwa pemerintah masih mempertimbangkan tawaran bantuan yang disampaikan Malaysia dan Singapura. Keputusan tersebut memerlukan pembahasan lebih lanjut dengan mempertimbangkan kebutuhan operasi di lapangan.
Asap tebal juga menjadi kendala dalam upaya pemadaman menggunakan helikopter. Kondisi tersebut dapat mengurangi efektivitas operasi udara, terutama ketika jarak pandang terbatas dan titik api sulit dijangkau.
Pemerintah menyebut sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan sebagai prioritas penanganan. Upaya pemadaman perlu dilakukan secara terpadu dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, akses menuju lokasi kebakaran, ketersediaan sumber air, serta risiko bagi personel di lapangan.
Karhutla bukan hanya persoalan memadamkan api. Pencegahan pembakaran lahan, pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, dan kesiapan pemerintah daerah juga menentukan keberhasilan penanganan.
Dampaknya terhadap masyarakat dapat meluas ketika asap mengganggu aktivitas sehari-hari. Kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan, perlu mendapat perhatian dalam upaya perlindungan kesehatan.
Di sisi lain, pemerintah perlu memastikan informasi mengenai titik api, kualitas udara, dan langkah penanganan disampaikan secara terbuka. Informasi yang jelas akan membantu masyarakat mengambil keputusan, termasuk mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Penanganan karhutla menjadi ujian koordinasi pemerintah pusat dan daerah. Kecepatan pemadaman perlu diimbangi dengan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.
Publik kini menunggu hasil operasi di lapangan dan keputusan pemerintah terkait tawaran bantuan internasional. Keberhasilan penanganan akan diukur bukan hanya dari jumlah titik api yang padam, tetapi juga dari kemampuan mencegah kebakaran baru dan melindungi masyarakat dari paparan asap.***
- Penulis: Hanken Arya

