Kenapa Huawei Mate 60 Bikin AS Berang dan Acam Boikot?
- account_circle Nugroho
- calendar_month Selasa, 12 Sep 2023
- print Cetak

Ilustrasi chipset Kirin 9000s miliki Huawei Mate 60. (Foto: Huawei Center)
Indo1.id – Huawei Mate 60 adalah smartphone flagship terbaru dari Huawei yang diluncurkan pada akhir Agustus 2023 di China.
Smartphone ini menawarkan spesifikasi yang canggih, seperti layar OLED 6,76 inci dengan refresh rate 120Hz, baterai 5000 mAh dengan fast charging 66W, kamera belakang quad 50 MP dengan OIS, dan kamera depan dual 13 MP.
Namun, yang paling menarik perhatian adalah chipset yang digunakan oleh Huawei Mate 60, yaitu Kirin 9000s.
Kirin 9000s adalah chipset buatan Huawei yang dirancang bersama dengan Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), perusahaan semikonduktor terbesar di China.
Chipset ini memiliki fabrikasi 7 nanometer (nm) dan mendukung konektivitas 5G.
Chipset ini juga memiliki CPU octa-core dengan kecepatan hingga 2,9 GHz dan GPU Mali-G78 MC24 dengan kecepatan hingga 900 MHz.
Namun, chipset Kirin 9000s ini ternyata membuat Amerika Serikat (AS) berang dan mengancam akan memblokir sepenuhnya Huawei dan SMIC.
Pasalnya, AS menuduh bahwa chipset tersebut menggunakan teknologi AS yang dilarang untuk diekspor ke China karena masalah keamanan nasional.
AS juga menuduh bahwa chipset tersebut dapat digunakan untuk kepentingan militer China.
AS telah memberlakukan sanksi perdagangan kepada Huawei sejak Mei 2019 dan kepada SMIC sejak Desember 2020.
Sanksi ini membuat kedua perusahaan China tersebut tidak bisa mendapatkan pasokan komponen atau teknologi dari perusahaan AS tanpa izin khusus dari Departemen Perdagangan AS.
Sanksi ini juga melarang perusahaan manapun di dunia yang menggunakan peralatan AS untuk memproduksi chip untuk Huawei.
Dengan demikian, muncul pertanyaan, bagaimana Huawei dan SMIC bisa membuat chipset Kirin 9000s dengan fabrikasi 7 nm meski ada sanksi dari AS?
Apakah mereka berhasil mengembangkan teknologi sendiri atau menggunakan teknologi dari negara lain?
Apakah mereka melanggar aturan yang ditetapkan oleh AS atau tidak?
Menurut analis TechInsights, sebuah perusahaan riset teknologi, chipset Kirin 9000s merupakan hasil modifikasi dari chipset Kirin 9000 yang sebelumnya diproduksi oleh Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), perusahaan semikonduktor terbesar di dunia.
Chipset Kirin 9000 memiliki fabrikasi 5 nm dan CPU octa-core dengan kecepatan hingga 3,1 GHz.
Chipset ini dipakai oleh Huawei Mate 40 yang diluncurkan pada Oktober 2020.
Analisis TechInsights menunjukkan bahwa chipset Kirin 9000s memiliki desain yang sama dengan chipset Kirin 9000, namun dengan beberapa perbedaan. Perbedaan tersebut antara lain adalah:
– Chipset Kirin 9000s memiliki fabrikasi lebih besar yaitu 7 nm, sedangkan chipset Kirin 9000 memiliki fabrikasi lebih kecil yaitu 5 nm.
– Chipset Kirin 9000s memiliki CPU octa-core dengan kecepatan lebih rendah yaitu hingga 2,9 GHz, sedangkan chipset Kirin 9000 memiliki CPU octa-core dengan kecepatan lebih tinggi yaitu hingga 3,1 GHz.
– Chipset Kirin 9000s memiliki GPU Mali-G78 MC24 dengan kecepatan lebih rendah yaitu hingga 900 MHz, sedangkan chipset Kirin 9000 memiliki GPU Mali-G78 MC24 dengan kecepatan lebih tinggi yaitu hingga 950 MHz.
– Chipset Kirin 9000s tidak memiliki NPU (Neural Processing Unit) atau unit pemrosesan AI (Artificial Intelligence), sedangkan chipset Kirin 9000 memiliki NPU dual-core.
Analisis TechInsights juga menyimpulkan bahwa chipset Kirin 9000s dibuat dengan menggunakan mesin litografi DUV (Deep Ultraviolet) dari ASML, sebuah perusahaan Belanda yang merupakan pemasok utama mesin litografi di dunia.
Mesin litografi DUV dapat digunakan untuk memproduksi chip dengan fabrikasi 7 nm atau lebih besar.
Mesin ini tidak termasuk dalam sanksi AS terhadap SMIC, sehingga SMIC masih bisa menggunakannya untuk memproduksi chip untuk Huawei.
Namun, mesin litografi DUV tidak dapat digunakan untuk memproduksi chip dengan fabrikasi 5 nm atau lebih kecil.
Untuk itu, diperlukan mesin litografi EUV (Extreme Ultraviolet) yang lebih canggih dan mahal.
Mesin litografi EUV juga diproduksi oleh ASML, namun mesin ini termasuk dalam sanksi AS terhadap SMIC, sehingga SMIC tidak bisa menggunakannya untuk memproduksi chip untuk Huawei.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Huawei dan SMIC tidak melanggar sanksi AS dalam membuat chipset Kirin 9000s.
Mereka hanya menggunakan teknologi yang masih diizinkan oleh AS dan melakukan modifikasi dari chipset Kirin 9000 yang sebelumnya diproduksi oleh TSMC.
Namun, mereka tidak bisa membuat chipset yang lebih canggih dari chipset Kirin 9000s karena keterbatasan teknologi dan sanksi AS.
Meski begitu, AS tetap merasa terancam dengan kemampuan Huawei dan SMIC dalam membuat chipset Kirin 9000s.
AS khawatir bahwa chipset tersebut dapat digunakan untuk kepentingan militer China atau mengancam posisi AS sebagai pemimpin teknologi semikonduktor di dunia.
Oleh karena itu, AS berencana untuk memperketat sanksi terhadap Huawei dan SMIC agar mereka tidak bisa mendapatkan akses ke teknologi AS sama sekali.
Namun, langkah AS ini mendapat kritik dari beberapa pihak, baik dari dalam maupun luar negeri. Kritik tersebut antara lain adalah:
– Langkah AS ini dianggap sebagai bentuk proteksionisme dan perang dagang yang tidak adil terhadap China.
Langkah ini juga dapat merugikan perusahaan-perusahaan AS sendiri yang kehilangan pasar dan pendapatan dari China.
– Langkah AS ini dianggap sebagai bentuk intimidasi dan campur tangan terhadap kedaulatan dan keamanan nasional China.
Langkah ini juga dapat memicu konflik dan ketegangan antara kedua negara yang dapat membahayakan perdamaian dan stabilitas dunia.
– Langkah AS ini dianggap sebagai bentuk ketakutan dan ketidakpercayaan terhadap kemajuan teknologi China.
Langkah ini juga dapat mendorong China untuk lebih berinovasi dan mandiri dalam mengembangkan teknologi semikonduktor sendiri.
Demikian kenapa Huawei Mate 60 bikin AS berang ancam untuk boikot dan blokir produknya.
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar