Waspada Virus Nipah yang Tengah Menyerang India, Akankah Masuk ke Indonesia?
- account_circle Nugroho
- calendar_month Senin, 18 Sep 2023
- print Cetak

Ilustrasi virus Nipah. (Foto: freepik)
Indo1.id – Virus Nipah kembali menimbulkan kekhawatiran di India setelah dua orang meninggal dunia akibat infeksi virus tersebut di negara bagian Kerala.
Virus Nipah adalah virus zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia, terutama dari kelelawar dan babi.
Virus ini dapat menyebabkan penyakit pernapasan akut dan ensefalitis fatal, dengan tingkat kematian mencapai 75 persen.
Virus Nipah pertama kali ditemukan pada tahun 1998-1999 di Malaysia dan Singapura, yang menewaskan lebih dari 100 orang dan menginfeksi hampir 300 orang.
Sejak itu, virus ini telah menyebar ke beberapa negara lain, seperti Bangladesh, India, Filipina, dan Thailand.
India telah mengalami empat kali wabah virus Nipah sejak tahun 2018, dengan total 23 kasus dan 21 kematian.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus Nipah dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi, seperti air liur, urine, atau darah.
Virus ini juga dapat ditularkan melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi oleh hewan tersebut, seperti buah-buahan yang digigit oleh kelelawar.
Selain itu, virus ini juga dapat ditularkan antarmanusia melalui kontak dekat dengan penderita atau cairan tubuhnya.
Gejala infeksi virus Nipah bervariasi, mulai dari tidak bergejala hingga berat. Gejala awal biasanya berupa demam, sakit kepala, mual, muntah, dan batuk.
Gejala lanjutan dapat berupa sesak napas, nyeri dada, mengantuk, kejang, dan koma. Gejala ini biasanya muncul dalam waktu 4-14 hari setelah terpapar virus.
Hingga saat ini, belum ada vaksin atau obat spesifik untuk mencegah atau mengobati infeksi virus Nipah.
Pengobatan yang tersedia hanya bersifat suportif atau membantu mengatasi gejala dan komplikasi.
Oleh karena itu, upaya pencegahan menjadi sangat penting untuk menghindari penularan virus ini.
Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
– Menghindari kontak langsung dengan hewan yang diduga atau diketahui terinfeksi virus Nipah, seperti kelelawar dan babi.
– Menghindari konsumsi makanan yang terkontaminasi oleh hewan tersebut, seperti buah-buahan yang digigit oleh kelelawar.
– Memasak makanan hingga matang sebelum dikonsumsi.
– Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah bersentuhan dengan hewan atau orang yang sakit.
– Menggunakan alat pelindung diri (APD), seperti masker, sarung tangan, dan jas lab saat merawat atau menangani orang atau hewan yang terinfeksi.
– Melaporkan kasus-kasus yang dicurigai atau terkonfirmasi infeksi virus Nipah kepada petugas kesehatan setempat.
Lalu, bagaimana potensi penyebaran virus Nipah ke Indonesia? Menurut epidemiolog Dicky Budiman pada Kamis (14/9/2023), potensi penyebaran virus Nipah masih rendah mengingat jarak antara Kerala Utara dengan Indonesia cukup jauh. Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan terjadinya penularan melalui perjalanan lintas negara atau perdagangan hewan.
Oleh karena itu, ia menyarankan agar pemerintah Indonesia meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap ancaman virus Nipah.
Ia juga mengimbau agar masyarakat Indonesia tetap menjaga kesehatan dan kebersihan diri serta lingkungan untuk mencegah penularan penyakit-penyakit infeksi, termasuk virus Nipah.
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar