Pusaka-pusaka tersebut disucikan dengan air bunga dan dibungkus dengan kain kuning.
Setelah penjamasan pusaka selesai, dilanjutkan dengan kirab budaya yang melibatkan ribuan peserta dari berbagai elemen masyarakat.
Kirab budaya dimulai dari Masjid Agung Demak menuju Alun-alun Demak. Kirab budaya menampilkan berbagai atraksi seni dan budaya seperti barongan, reog, rebana, prajurit patangpuluhan (40 orang), kereta kuda, dan lain-lain.
Salah satu daya tarik kirab budaya adalah barisan panji-panji kebesaran Kesultanan Demak yang terdiri dari 9 panji berwarna merah dengan lambang naga putih.
Panji-panji tersebut melambangkan sembilan wali atau Wali Songo yang menyebarkan Islam di Jawa.
Grebeg Besar digunakan sebagai upacara adat, hiburan, media komunikasi, penyatuan nilai-nilai kemasyarakatan dan objek pariwisata.
Grebeg Besar juga mengandung makna spiritual sebagai bentuk syukur kepada Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya serta mengenang jasa para pendahulu dalam mempertahankan agama dan budaya.
Selain Grebeg Besar, Kabupaten Demak juga memiliki tradisi Grebeg lainnya yang dilakukan pada bulan-bulan tertentu dalam kalender Islam.
Beberapa tradisi Grebeg tersebut adalah:
– Grebeg Maulid, yaitu upacara adat yang dilakukan pada tanggal 12 Rabiul Awal untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Pada upacara ini, dilakukan kirab budaya yang menampilkan barisan panji-panji berwarna hijau dengan lambang bintang dan bulan.
Panji-panji tersebut melambangkan cahaya Nabi Muhammad SAW yang menerangi dunia.
– Grebeg Syawal, yaitu upacara adat yang dilakukan pada tanggal 1 Syawal atau Hari Raya Idul Fitri.
Pada upacara ini, dilakukan kirab budaya yang menampilkan barisan panji-panji berwarna putih dengan lambang bunga melati.