Mitos Kayu Trunyan Bali, Pohon Ajaib yang Menghilangkan Bau Jenazah di Desa Trunyan
- account_circle Nugroho
- calendar_month Kamis, 13 Jul 2023
- print Cetak

Pohon Taru Menyan Desa Trunyan Bali. (Foto: instagram @fadliyatiulya)
Indo1.id – Bali merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia yang menawarkan berbagai keindahan alam dan budaya.
Salah satu tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi di Bali adalah Desa Trunyan, sebuah desa yang terletak di sisi timur Danau Batur, Kintamani.
Desa Trunyan dikenal memiliki tradisi pemakaman unik yang berbeda dari kebanyakan masyarakat Bali lainnya.
Di sini, jenazah warga yang meninggal tidak dikubur atau dikremasi, melainkan hanya diletakkan di bawah pohon Taru Menyan.
Pohon ini diyakini mampu menghilangkan bau jenazah dengan aromanya yang harum.
Pohon Taru Menyan atau kayu trunyan bali merupakan pohon endemik yang hanya tumbuh di Desa Trunyan.
Pohon ini memiliki nama latin Murraya paniculata dan termasuk dalam keluarga jeruk-jerukan. Pohon ini memiliki bunga berwarna putih yang mengeluarkan wangi seperti melati.
Pohon Taru Menyan ini memiliki mitos yang berkaitan dengan asal-usul Desa Trunyan. Konon, dahulu ada seorang putra Raja Surakarta yang mencium bau harum dari arah timur. Dia pun meminta izin kepada ayahnya untuk mencari sumber bau itu.
Dia berangkat bersama tiga saudaranya menuju arah timur hingga sampai di Bali. Di sana, mereka terpisah karena berbagai alasan.
Si putra tertua melanjutkan perjalanan hingga menemukan pohon Taru Menyan di tepi Danau Batur.
Di sana juga ada seorang putri cantik yang menjaga pohon itu. Si putra tertua pun jatuh cinta dan meminangnya.
Mereka menikah dan mendirikan Desa Trunyan. Mereka juga mengajarkan tradisi pemakaman unik kepada keturunan mereka.
Menurut mitos, pohon Taru Menyan ini merupakan hadiah dari Dewa Wisnu kepada pasangan tersebut.
Pohon ini diberkahi dengan kemampuan untuk menghilangkan bau jenazah dan memberikan kesejahteraan kepada warga Desa Trunyan.
Desa Trunyan menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik bagi para wisatawan yang ingin melihat tradisi pemakaman unik dan pohon Taru Menyan.
Untuk menuju ke sana, wisatawan harus menyeberang menggunakan perahu dari Desa Kedisan.
Di Desa Trunyan, terdapat tiga lokasi pemakaman, yaitu Sema Wayah, Sema Bantas, dan Sema Muda.
Sema Wayah adalah tempat untuk meletakkan jenazah laki-laki dewasa yang sudah menikah.
Sema Bantas adalah tempat untuk meletakkan jenazah perempuan dewasa yang sudah menikah.
Sema Muda adalah tempat untuk meletakkan jenazah anak-anak atau orang dewasa yang belum menikah.
Di setiap lokasi pemakaman, terdapat pohon Taru Menyan yang menjulang tinggi.
Di bawah pohon itu, terdapat ratusan tengkorak dan tulang belulang yang tersusun rapi.
Jenazah baru hanya diletakkan di atas tanah atau bambu tanpa ditutupi apa pun.
Meskipun demikian, tidak ada bau busuk atau lalat di sana. Hanya ada aroma harum dari pohon Taru Menyan yang menyelimuti area pemakaman.
Hal ini membuat banyak orang penasaran dan kagum dengan keajaiban pohon ini.
Selain melihat tradisi pemakaman dan pohon Taru Menyan, wisatawan juga bisa menikmati pemandangan alam yang indah di Desa Trunyan.
Di sini, terdapat Danau Batur yang mempesona dengan latar belakang Gunung Batur yang megah.
Wisatawan juga bisa berinteraksi dengan warga Desa Trunyan yang ramah dan menjaga adat istiadat mereka dengan baik.
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar