Waduh, Kepala BKKBN Bilang 50 Ribu Anak Menikah Dini Karena Hamil di Luar Nikah
- account_circle Nugroho
- calendar_month Selasa, 18 Jul 2023
- print Cetak

Test kehamilan. (Foto: pixabay)
Indo1.id – Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengungkapkan bahwa ada sekitar 50 ribu anak di bawah umur yang menikah dini karena hamil di luar nikah.
Hal ini disampaikan dalam acara sosialisasi program Generasi Berencana (GenRe) di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada Selasa, 18 Juli 2023.
Hasto Wardoyo mengatakan bahwa pernikahan dini pada usia di bawah 18 tahun sangat berbahaya bagi kesehatan ibu dan bayi yang dilahirkan.
Pernikahan dini dapat meningkatkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), serta menyebabkan stunting atau kekerdilan pada anak.
Selain itu, pernikahan dini juga dapat menghambat pendidikan, karier, dan potensi anak-anak.
“Pernikahan pada usia dini sangat berbahaya. Pernikahan usia dini juga berpotensi bayi yang dilahirkan mengalami kekerdilan (stunting),” kata Hasto Wardoyo.
Menurut data BKKBN, pernikahan pada usia di bawah 18 tahun di Indonesia terjadi sebanyak 20 dari 1.000 pernikahan.
Namun, angka ini meningkat menjadi 50 dari 1.000 pernikahan jika melibatkan anak yang hamil di luar nikah.
Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan kesehatan reproduksi yang memadai.
“Saya mengukurnya dari angka pernikahan dini itu 20 per 1.000 orang nikah, jadi setiap 1.000 pernikahan ada 20 nikah dini, itu data terkininya di tahun 2021. Tapi kalau kita masukkan faktor hamil di luar nikah, maka angkanya menjadi 50 per 1.000 orang nikah,” kata Hasto Wardoyo.
Hasto Wardoyo mengimbau setiap keluarga bahwa sebuah pernikahan harus direncanakan sebaik mungkin dan dilakukan pada usia yang bisa dikatakan cukup.
Ia juga menekankan pentingnya memberikan pendidikan kesehatan reproduksi kepada masyarakat, khususnya remaja, agar mereka tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah.
“Sangat penting untuk mencegah terjadinya pernikahan dini dan mencegah risiko lahirnya bayi stunting. Dan pendidikan kesehatan reproduksi jangan kita diskreditkan sebagai seksual education, pelajaran tentang hubungan seks, pelajaran seks beda dengan pelajaran hubungan seks,” kata Hasto Wardoyo.
Untuk mendukung program GenRe, BKKBN bekerja sama dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan media massa.
Program GenRe bertujuan untuk memberdayakan generasi muda agar dapat merencanakan masa depannya dengan bijak dan bertanggung jawab.
“GenRe adalah program yang sangat strategis untuk membangun karakter generasi muda yang berkualitas. Kami berharap program ini dapat terus berjalan dan mendapat dukungan dari semua pihak,” kata Hasto Wardoyo.
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar