Kisah Kyai Haji Subkhi Parakan dan Jimat Tuah Bambu Runcing Demi Kemerdekaan RI
- account_circle Nugroho
- calendar_month Jumat, 11 Agt 2023
- print Cetak

KH. Subkhi Parakan yang terkenal jimat bambu runcing. (Foto: NU Online)
Indo1.id – Kyai Haji Subkhi Parakan adalah salah satu ulama besar yang berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Beliau dikenal sebagai “Kyai Bambu Runcing” karena beliau memberikan jimat dan tuah bagi para pejuang yang menggunakan bambu runcing sebagai senjata melawan penjajah.
Kyai Subkhi lahir di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, sekitar tahun 1850.
Beliau merupakan putra sulung dari Kiai Harun Rasyid, penghulu masjid di kawasan itu.
Beliau juga merupakan keturunan dari Kiai Abdul Wahab, seorang pengikut Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830).
Beliau menempuh pendidikan agama di pesantren Sumolangu, asuhan Syekh Abdurrahman Sumolangu, ayahanda Kiai Mahfudz Sumolangu.
Di sana, beliau mengasah ilmu agama dan jiwa nasionalisme.
Beliau kemudian mengasuh pesantren Parakan Kauman, yang menjadi pusat dakwah dan pergerakan di wilayah Temanggung.
Parakan merupakan kota kecil yang strategis sebagai persimpangan antara Banyumas, Kedu, Pekalongan, dan Semarang. Di kota ini, berkembang pula organisasi Sarekat Islam (SI), yang menjadi cikal bakal pergerakan nasional Indonesia.
Kyai Subkhi menjadi salah satu tokoh SI yang aktif menggerakkan massa untuk menentang penjajahan.
Ketika Jepang menggantikan Belanda sebagai penjajah pada tahun 1942, Kyai Subkhi tidak tinggal diam.
Beliau terlibat dalam gerakan bawah tanah untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.
Beliau juga menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) mewakili Jawa Tengah.
Setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Kyai Subkhi menjadi salah satu tokoh yang memprakarsai pembentukan laskar rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan dari serangan Belanda dan sekutunya.
Laskar rakyat ini diberi nama Barisan Muslimin Temanggung (BMT).
BMT merupakan salah satu laskar rakyat terbesar dan terkuat di Jawa Tengah. BMT memiliki anggota sekitar 10 ribu orang, yang terdiri dari para santri, pemuda, petani, dan buruh.
BMT juga memiliki persenjataan yang cukup lengkap, seperti senapan Mauser, bambu runcing, bom rakitan, dan golok.
Namun, senjata andalan BMT adalah bambu runcing.
Bambu runcing adalah senjata yang terbuat dari bambu yang diruncingkan dan diberi jimat atau mantra oleh Kyai Subkhi.
Jimat atau mantra ini diyakini bisa memberikan kekebalan dari peluru atau bayonet musuh.
Kyai Subkhi memberikan jimat atau mantra ini dengan cara membacakan ayat-ayat Alquran atau doa-doa tertentu pada bambu runcing tersebut.
Jimat atau mantra ini juga bisa berupa kain putih dengan tulisan kaligrafi Arab yang diikatkan pada ujung bambu runcing.
Banyak pejuang BMT yang berhasil mengalahkan musuh dengan menggunakan bambu runcing yang diberi jimat atau mantra oleh Kyai Subkhi.
Salah satu contohnya adalah saat pertempuran di Ambarawa pada November 1945.
Saat itu, BMT berhasil mengusir pasukan Inggris dan NICA dengan bantuan pasukan Siliwangi.
Kyai Subkhi tidak hanya memberikan jimat atau mantra pada bambu runcing, tetapi juga pada diri para pejuangnya.
Beliau memberikan semangat juang yang tinggi kepada para pejuang dengan cara memberikan ceramah atau nasehat yang menyentuh hati.
Beliau juga memberikan doa atau restu kepada para pejuang sebelum mereka berangkat ke medan perang.
Kyai Subkhi juga menjadi salah satu pendiri dan pengurus Persatuan Central Nahdlatul Ulama (PCNU) Temanggung pada tahun 1946.
Beliau menjadi salah satu tokoh NU yang berperan aktif dalam menggalang dukungan rakyat untuk mendukung pemerintah Republik Indonesia.
Kyai Subkhi wafat pada tanggal 6 April 1959, saat usianya mencapai 100 tahun.
Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di Parakan.
Beliau meninggalkan warisan berupa ilmu, amal, dan jasa yang tak terlupakan bagi bangsa Indonesia.
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar