Mitos Kejatuhan Cicak, Apa Artinya dan Apa Faktanya?
- account_circle Nugroho
- calendar_month Kamis, 24 Agt 2023
- print Cetak

Cicak yang merambat di dinding. (Foto: faunatic)
Indo1.id – Cicak adalah salah satu hewan yang sering ditemukan di rumah-rumah. Cicak biasanya hidup di dinding, plafon, atau atap, dan memakan serangga kecil.
Cicak memiliki tubuh yang panjang dan ramping, dengan kulit yang bersisik dan berwarna bervariasi.
Cicak juga memiliki kemampuan untuk memutuskan ekornya jika terancam dan menumbuhkannya kembali.
Cicak tidak hanya dikenal sebagai hewan yang berguna, tetapi juga sebagai hewan yang memiliki banyak mitos dan kepercayaan.
Menurut sebagian masyarakat, cicak adalah hewan yang membawa pertanda atau ramalan bagi manusia.
Salah satu mitos yang paling populer adalah tentang kejatuhan cicak.
Mitos ini mengatakan bahwa jika cicak jatuh di tubuh manusia, maka itu menandakan sesuatu yang akan terjadi pada manusia tersebut.
Mitos ini berasal dari cerita rakyat yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi.
Cerita ini juga mengandung pesan moral dan nilai-nilai budaya.
Menurut cerita, cicak dulunya adalah seorang pangeran tampan bernama Raden Cakil, yang merupakan anak dari Prabu Salya, raja Kerajaan Mandaraka di Jawa Tengah.
Raden Cakil sangat dicintai oleh ayahnya, namun ia juga sangat sombong dan angkuh.
Ia merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain dan tidak mau menuruti perintah atau nasihat siapa pun.
Suatu hari, Raden Cakil ingin menikahi putri cantik bernama Dewi Sekarwangi, yang merupakan anak dari Prabu Kresna, raja Kerajaan Dwarawati di Jawa Barat.
Namun, Dewi Sekarwangi menolak dengan keras dan menghina Raden Cakil.
Ia bahkan mengatakan bahwa ia lebih suka mati daripada menikah dengan Raden Cakil.
Raden Cakil sangat marah mendengar ucapan Dewi Sekarwangi itu.
Ia pun memerintahkan pasukannya untuk menyerang Kerajaan Dwarawati dan menculik Dewi Sekarwangi.
Namun, ia tidak tahu bahwa Prabu Kresna adalah saudara dari Prabu Salya. Prabu Salya pun mendapat kabar tentang perbuatan anaknya itu dan merasa malu.
Prabu Salya pun mengutuk Raden Cakil menjadi hewan yang kecil dan jelek, yaitu cicak.
Ia juga mengutuk Dewi Sekarwangi menjadi hewan yang sama, karena ia telah menyebabkan peperangan antara dua kerajaan saudara.
Ia pun memberi mereka sebuah syarat untuk bisa kembali menjadi manusia.
Syaratnya adalah mereka harus jatuh di tubuh manusia yang memiliki sifat-sifat tertentu.
Jika cicak jatuh di kepala manusia, maka itu berarti manusia tersebut memiliki sifat bijaksana dan cerdas.
Jika cicak jatuh di dada manusia, maka itu berarti manusia tersebut memiliki sifat baik hati dan penyayang.
Jika cicak jatuh di perut manusia, maka itu berarti manusia tersebut memiliki sifat lapar dan rakus.
Jika cicak jatuh di kaki manusia, maka itu berarti manusia tersebut memiliki sifat malas dan pengecut.
Jika mereka berhasil menemukan manusia yang memiliki sifat-sifat tersebut, maka mereka harus mengucapkan kata-kata tertentu untuk meminta maaf kepada Tuhan dan manusia tersebut.
Kata-kata tersebut adalah “Aku minta maaf atas kesombongan dan keangkuhanku. Aku bersedia menerima hukuman ini sebagai pembelajaran bagi diriku.”
Sejak saat itu, Raden Cakil dan Dewi Sekarwangi menjadi cicak yang hidup di rumah-rumah manusia.
Mereka sering mencoba untuk jatuh di tubuh manusia untuk bisa kembali menjadi manusia.
Namun, mereka selalu gagal karena manusia selalu mengusir atau membunuh mereka.
Mitos Raden Cakil dan Dewi Sekarwangi adalah salah satu cerita rakyat Jawa yang memiliki makna mendalam.
Cerita ini mengajarkan kita untuk tidak sombong dan angkuh, serta menghormati orang lain.
Cerita ini juga mengingatkan kita bahwa ada kekuatan gaib yang mengatur alam semesta ini.
Oleh karena itu, kita harus selalu bersyukur dan berdoa agar selamat dari bencana alam.
Namun, mitos ini juga memiliki banyak kelemahan dan kekurangan.
Mitos ini tidak memiliki dasar ilmiah atau logis yang kuat.
Mitos ini juga dapat menimbulkan kesalahpahaman atau ketakutan yang berlebihan bagi manusia.
Mitos ini juga dapat menimbulkan sikap tidak peduli atau kejam terhadap hewan.
Menurut ilmu pengetahuan, cicak adalah hewan yang berguna dan tidak berbahaya bagi manusia.
Cicak dapat membantu manusia dalam mengendalikan populasi serangga yang dapat merusak tanaman atau menyebarkan penyakit.
Cicak juga memiliki sistem pertahanan diri yang unik, yaitu dengan memutuskan ekornya jika terancam dan menumbuhkannya kembali.
Kejatuhan cicak di tubuh manusia adalah hal yang wajar dan tidak berarti apa-apa.
Kejatuhan cicak disebabkan oleh beberapa faktor, seperti suhu udara, kelembaban, gravitasi, atau gangguan dari luar.
Kejatuhan cicak tidak ada hubungannya dengan sifat atau nasib manusia.
Oleh karena itu, kita tidak perlu percaya atau takut dengan mitos kejatuhan cicak. Kita harus bersikap bijaksana dan rasional dalam menyikapi fenomena alam ini.
Kita juga harus bersikap baik dan ramah terhadap hewan, termasuk cicak.
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar