Mitos Acara Hajad Dalem Sekaten Keraton Yogyakarta
- account_circle Nugroho
- calendar_month Kamis, 7 Sep 2023
- print Cetak

Gamelan Kyai Gunturmadu dipersiapkan untuk acara Hajad Dalem Sekaten Yogjakarta. (Foto: twitter @kratonjogja)
Indo1.id – Hajad Dalem Sekaten adalah salah satu tradisi yang dilaksanakan oleh Keraton Yogyakarta setiap tahunnya untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Acara ini terdiri dari sejumlah prosesi yang melibatkan gamelan-gamelan khusus yang disebut Gamelan Sekati, yaitu Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu.
Gamelan-gamelan ini hanya dikeluarkan dari dalam Keraton dan ditabuh di halaman Masjid Gedhe Kauman selama tujuh hari, dari tanggal 5 sampai dengan tanggal 12 Mulud (Rabi’ul Awal).
Selain sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW, acara hajad dalem sekaten juga memiliki makna dan mitos tersendiri bagi masyarakat Yogyakarta.
Berikut adalah beberapa mitos yang berkembang seputar acara ini:
– Mitos tentang asal-usul gamelan sekati.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa gamelan sekati berasal dari kata “sekati”, yang artinya bersatu atau berpadu.
Hal ini mengacu pada asal-usul gamelan-gamelan ini, yang konon dibuat oleh Sunan Kalijaga dengan menggunakan logam-logam dari berbagai daerah di Nusantara.
Gamelan-gamelan ini kemudian diserahkan kepada Sultan Agung sebagai hadiah dan simbol persatuan antara kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.
– Mitos tentang kekuatan magis gamelan sekati.
Gamelan-gamelan ini diyakini memiliki kekuatan magis yang luar biasa, sehingga hanya boleh ditabuh oleh orang-orang tertentu yang telah mendapat izin dari Sultan.
Gamelan-gamelan ini juga dipercaya dapat memberikan berkah dan perlindungan bagi Keraton dan rakyat Yogyakarta, serta mengusir bala dan bencana.
Selain itu, gamelan-gamelan ini juga dapat mempengaruhi cuaca dan alam sekitar, seperti membuat hujan turun atau angin bertiup.
– Mitos tentang ritual labuhan. Setelah prosesi hajad dalem sekaten selesai, gamelan-gamelan ini akan dibawa kembali ke dalam Keraton dalam prosesi kondur gangsa.
Sebelum itu, Sultan akan menyebarkan udhik-udhik atau uang koin kepada masyarakat sebagai bentuk sedekah.
Selain itu, Sultan juga akan melaksanakan ritual labuhan, yaitu menghanyutkan benda-benda tertentu yang disebut ubarampe labuhan ke laut dan gunung.
Ritual labuhan ini dimaksudkan sebagai doa dan pengharapan untuk membuang sifat buruk dan menjaga keselarasan alam.
– Mitos tentang pasar malam sekaten.
Selama prosesi hajad dalem sekaten berlangsung, di sekitar Masjid Gedhe Kauman juga digelar pasar malam sekaten, yang menawarkan berbagai macam hiburan dan dagangan.
Pasar malam ini merupakan salah satu daya tarik bagi masyarakat untuk datang dan merayakan sekaten bersama-sama.
Pasar malam ini juga memiliki mitos tersendiri, seperti bahwa barang-barang yang dibeli di sana akan membawa keberuntungan atau bahwa orang-orang yang bertemu di sana akan menjadi jodoh.
Demikian mitos acara hajad dalem sekaten keraton Yogyakarta.
Semoga bermanfaat dan menambah wawasan Anda.
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar