Mitos Benteng Misterius Angker di Tahura Sultan Adam, yang Menyimpan Sejarah Belanda
- account_circle M Effendi
- calendar_month Sabtu, 30 Sep 2023
- print Cetak

Benteng Belanda Tahura Sultan Adam Kalimantan Selatan. (Foto Instagram @wargabanua)
Indo1.id – Di tengah hiruk-pikuk Kota Banjarmasin, tersembunyi sebuah destinasi wisata yang memikat pengunjung dengan aura mistisnya, yaitu Mitos Benteng Belanda di Tahura Sultan Adam.
Terletak di Taman Hitan Raya (Tahura) Sultan Adam, tepatnya di Bukit Besar, Mandiangin Timur, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, benteng kuno ini telah lama menjadi daya tarik bagi para pecinta sejarah dan petualangan.
Meski menjadi destinasi menarik, sayangnya, akses jalan menuju benteng ini masih kurang baik.
Jalan sempit dengan banyak tikungan tajam membuat perjalanan menuju lokasi menjadi tantangan tersendiri bagi pengunjung.
Mereka harus ekstra hati-hati, terutama karena terdapat jurang dalam di sekitar area tersebut.
Saat matahari tengah bersinar terang, benteng ini mungkin terlihat sebagai bangunan bersejarah yang terbengkalai. Namun, suasana berubah drastis ketika malam tiba.
Ketika senja merayap dan gelap mulai menyelimuti tempat ini, suasana menjadi mencekam dan memunculkan nuansa mistis yang membuat bulu kuduk merinding.
Benteng Belanda ini, yang sudah berusia sangat tua, terlihat berserakan dengan dinding yang sudah tidak lagi kokoh.
Bahkan, ada terowongan-terowongan kecil yang menghubungkan beberapa sisi benteng, menambah kesan seram tempat ini.
Praktek pembuatan terowongan oleh Belanda merupakan hal umum di setiap bangunan yang mereka buat.
Terowongan ini digunakan untuk berbagai keperluan, seperti tempat perlindungan, penyimpanan, dan lainnya.
Tahura Sultan Adam adalah destinasi wisata yang sangat cocok bagi pencinta petualangan dan misteri.
Suasana mistis, bangunan kuno yang berserakan, serta jejak sejarah Belanda yang masih terasa kuat membuatnya menjadi salah satu destinasi wisata angker yang patut dikunjungi bagi yang berani mengeksplorasi sisi misteriusnya.
- Penulis: M Effendi


Saat ini belum ada komentar