Mitos Samarantu: Pintu Masuk ke Dunia Gaib di Gunung Slamet, Benarkah?
- account_circle Nugroho
- calendar_month Selasa, 10 Okt 2023
- print Cetak

Pos IV Samaranthu, pendakian Gn. Slamet. Usahakan sebelum magrib sudah melewati pos ini. (Foto: X @Luckyyy)
Indo1.id – Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.428 meter di atas permukaan laut.
Gunung ini terletak di perbatasan lima kabupaten, yaitu Banyumas, Purbalingga, Brebes, Tegal, dan Pemalang.
Selain dikenal sebagai gunung berapi aktif, Gunung Slamet juga menyimpan banyak kisah mistis yang menarik perhatian para pendaki dan peneliti.
Salah satu kisah mistis yang paling terkenal adalah mitos samarantu.
Samarantu adalah nama sebuah pos pendakian yang terletak di jalur Bambangan, Banyumas.
Pos ini ditandai dengan dua pohon besar yang sejajar seperti pintu.
Konon, pintu itu adalah pintu masuk ke dunia gaib atau kerajaan makhluk astral.
Samarantu konon berasal dari kata samar dan hantu, yang berarti hantu yang tidak terlihat jelas atau tersamar.
Banyak pendaki yang mengaku melihat penampakan makhluk astral di pos ini, seperti sosok anak kecil, wanita berambut panjang, atau bayangan hitam.
Beberapa pendaki juga mengalami hal-hal aneh, seperti tersesat, terpisah dari rombongan, atau mendengar suara-suara aneh.
Menurut warga setempat, mitos samarantu mungkin berkaitan dengan kepercayaan masyarakat Jawa tentang ramalan Jayabaya.
Ramalan Jayabaya adalah ramalan yang dibuat oleh Raja Kediri pada abad ke-12, yang menyebutkan bahwa Pulau Jawa akan terbelah dua jika Gunung Slamet meletus.
Untuk mencegah hal itu terjadi, warga sering mengirimkan doa atau sesajen ke gunung ini agar tetap selamat.
Meski begitu, tidak semua pendaki percaya dengan mitos samarantu.
Beberapa pendaki menganggapnya sebagai cerita fiktif yang dibuat untuk menambah sensasi pendakian.
Mereka berpendapat bahwa penampakan makhluk astral bisa disebabkan oleh halusinasi akibat kelelahan atau hipotermia.
Mereka juga menyarankan agar pendaki tetap berhati-hati, menghormati alam, dan menjaga etika pendakian.
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar