Air tersebut ditempatkan dalam sebuah guci (poci) dan dianggap memiliki berkah.
Masyarakat setempat menyebut lokasi ini dengan nama “Guci.”
Namun, karena air yang diberikan oleh wali-wali itu terbatas, pada malam Jumat Kliwon, seorang sunan diyakini menancapkan tongkat saktinya ke tanah, dan dengan izin Tuhan, air panas tanpa belerang yang penuh rahmat mulai mengalir.