“Kisah “Mimi lan Mintuna” sebagai Simbol Cinta dan Kepedulian Lingkungan
- account_circle M Effendi
- calendar_month Kamis, 26 Okt 2023
- print Cetak

Mimi dan Mintuna. (Foto Instagram @anugrahyuyu1)
Indo1.id – Di tengah masyarakat Jawa, sering kali terdengar ungkapan “Dadio pasangan kaya Mimi lan Mintuna,” yang secara harfiah berarti “Seperti pasangan Mimi dan Mintuna.”
Ungkapan ini digunakan sebagai petuah manis untuk para pasangan yang sedang membangun kehidupan berumah tangga.
Namun, sebenarnya siapa Mimi dan Mintuna, dan mengapa mereka dijadikan perumpamaan dalam petuah cinta manusia?
Mimi dan Mintuna adalah sebutan untuk dua jenis belangkas, atau Arthropoda, yang biasa disebut belangkas tapal kuda atau horseshoe crab.
Mereka menghuni perairan dangkal di wilayah paya-paya dan kawasan mangrove di Jawa, khususnya di Jawa Tengah.
Mimi adalah sebutan untuk belangkas jantan, sementara Mintuna adalah sebutan untuk belangkas betina.
Keduanya memiliki ciri-ciri mirip, namun belangkas betina memiliki kumpulan telur di bagian depannya dan ukurannya lebih lebar daripada belangkas jantan.
Belangkas ini adalah bagian dari Famili Limulidae dan dianggap sebagai sumberdaya genetik yang perlu dilindungi.
Mereka dilindungi oleh peraturan seperti SK Menteri Kehutanan No.12/Kpts-II/1987 dan Peraturan Pemerintah RI No.7/1999.
Kelestarian mereka terancam oleh faktor-faktor seperti degradasi habitat, reklamasi, pencemaran, perburuan komersial, hilangnya habitat dan sumber makanan, perubahan kondisi air, serta peningkatan predasi.
Keunikan dari Mimi dan Mintuna adalah mereka dianggap sebagai hewan yang setia satu sama lain.
Mereka tidak bisa dipisahkan; jika dipisahkan, keduanya akan mati.
Dalam cerita-cerita tradisional, dikatakan bahwa jika hewan ini dimasak secara terpisah, mereka akan mengeluarkan racun.
Namun, jika dimasak bersamaan, mereka bisa dimasak dan dikonsumsi.
Dari sini muncul filosofi untuk pasangan cinta sejati yang digambarkan dengan “mimi lan mintuna,” menggambarkan kesetiaan yang tak tertandingi.
Belangkas juga sering disebut sebagai “hewan berdarah biru” karena darah mereka memiliki warna biru.
Mereka juga dianggap sebagai “fosil hidup” karena bentuk mereka tidak mengalami perubahan berarti selama jutaan tahun, sejak masa 400-250 juta tahun yang lalu.
Namun, saat ini, populasi mereka semakin berkurang dan terancam punah.
Oleh karena itu, kita perlu menjaga keberadaan dan Mintuna serta menjaga keberlangsungan lingkungan.
Hewan-hewan ini adalah bagian penting dari ekosistem dan memiliki nilai ekologis yang besar.
Dengan menjaga keberadaan mereka, kita juga turut menjaga kelestarian alam dan bumi kita.
Mari bersama-sama menjaga bumi kita agar tetap lestari.
Salam lestari!
- Penulis: M Effendi


Saat ini belum ada komentar