Indo1.id – Bandung, ibukota Provinsi Jawa Barat, dikenal dengan berbagai julukan yang melekat kuat pada identitasnya.
Selain disebut sebagai Kota Kembang, Bandung juga populer dengan sebutan Paris van Java, yang berarti “Paris dari Jawa.”
Julukan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari citra Bandung sebagai kota yang penuh pesona.
Namun, apa sebenarnya asal usul dari julukan ini? Mari kita telusuri sejarah dan maknanya.
1. Bandung: Perpaduan Alam dan Gaya Hidup
Julukan “Paris van Java” lahir dari perpaduan antara keindahan alam Bandung dan gaya hidup masyarakatnya yang modern pada masanya.
Pada masa kolonial Belanda, Bandung menjadi salah satu pusat perkembangan kota yang mengedepankan estetika, budaya, dan kemewahan, mirip dengan kota Paris di Prancis.
Bandung yang dikelilingi pegunungan menawarkan udara sejuk dan pemandangan indah, menjadikannya tempat favorit bagi warga Eropa, khususnya para pejabat dan pengusaha Belanda.
Suasana kota yang asri dengan tata kota yang baik menambah daya tariknya sebagai “Paris kecil” di Pulau Jawa.
2. Era Kolonial dan Modernisasi Bandung
Pada awal abad ke-20, Bandung mengalami perkembangan pesat sebagai pusat modernisasi di Hindia Belanda.
Beberapa faktor yang berkontribusi pada julukan “Paris van Java” adalah:
a. Pusat Mode dan Gaya Hidup
Bandung dikenal sebagai tempat di mana tren mode berkembang.
Pada masa itu, banyak butik dan toko pakaian bergaya Eropa bermunculan di sepanjang jalan utama, seperti Jalan Braga.
Jalan Braga menjadi ikon gaya hidup mewah, menampilkan butik-butik kelas atas yang menjual pakaian dan aksesori bergaya Paris.
Warga Eropa di Bandung sering mengadopsi gaya berpakaian ala Paris, lengkap dengan acara-acara sosial seperti pesta dansa, opera, dan pertunjukan seni yang mengingatkan pada kehidupan malam di kota mode dunia itu.
b. Arsitektur Bergaya Eropa
Pembangunan Bandung yang masif pada era kolonial didukung oleh tata kota modern yang dirancang oleh arsitek Belanda.
Bangunan-bangunan bergaya Art Deco yang megah mulai menghiasi kota ini, seperti Gedung Sate, Hotel Savoy Homann, dan Gedung Merdeka.
Gaya arsitektur ini memperkuat kesan bahwa Bandung adalah kota yang meniru keindahan Paris, terutama dalam estetika perkotaannya.
c. Kehidupan Sosial yang Dinamis
Bandung menjadi tempat berkumpulnya kaum elit kolonial yang mencari hiburan dan relaksasi.