Luka Psikologis yang Kita Abaikan
Di balik riasan dan senyum yang terlihat “kuat”, ada hal yang jarang kita bahas: luka batin yang terus bekerja diam-diam.
Banyak dari mereka hidup dengan:
- Rasa bersalah yang tidak pernah selesai
- Kecemasan akan masa depan yang gelap
- Trauma dari kekerasan yang tak pernah benar-benar pulih
- Perasaan kehilangan harga diri akibat label yang terus ditempelkan
Namun ironisnya, masyarakat lebih tertarik membicarakan “dosa” mereka, daripada memahami luka mereka.
Siapa yang Sebenarnya Bersalah?
Jika kita jujur, perempuan malam bukanlah akar masalah.
Mereka adalah gejala.
Akar masalahnya jauh lebih dalam:
- Ketimpangan ekonomi
- Pendidikan yang tidak merata
- Sistem sosial yang gagal melindungi
- Budaya yang gemar menghakimi tapi malas memperbaiki
Tapi membongkar semua itu memang tidak semudah menunjuk satu orang dan menyalahkannya. Maka kita memilih jalan pintas: menyederhanakan masalah, lalu menenangkan hati dengan penghakiman.
Saatnya Jujur pada Diri Sendiri
Rubrik ini bukan untuk membenarkan semuanya.
Tapi untuk mengingatkan satu hal yang sering kita lupa:
Empati bukan berarti setuju. Tapi tanpa empati, kita tidak akan pernah menemukan solusi.
Jika kita benar-benar ingin mengurangi fenomena ini, maka yang harus dibenahi bukan hanya individu—tetapi sistem yang melahirkannya.
Karena selama akar masalah dibiarkan, “perempuan malam” akan selalu ada.
Bukan karena mereka ingin, tapi karena kita sebagai masyarakat gagal menyediakan siang yang cukup terang untuk mereka.
Oleh: Dr. Totok Sardjono Msi
Penulis merupakan
Direktur Executive Sardjono Research and Consulting








