Rupiah Melemah ke Rp17.779 per Dolar AS, Pasar Menanti Keputusan BI
- account_circle Hanken Arya
- calendar_month Senin, 21 Sep 2026
- print Cetak

Rupiah Melemah ke Rp17.779 per Dolar AS
Indo1.id – Nilai tukar rupiah kembali bergerak di bawah tekanan pada awal perdagangan Senin (21/9/2026).
Mata uang Garuda berada di level Rp17.779 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 21 poin atau sekitar 0,12 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah tersebut berlangsung di tengah kondisi mata uang Asia yang bergerak beragam terhadap dolar AS. Yuan China tercatat stabil, sementara peso Filipina melemah 0,04 persen.
Di sisi lain, ringgit Malaysia menguat 0,12 persen, dolar Singapura terapresiasi 0,04 persen, yen Jepang menguat 0,07 persen, sedangkan won Korea Selatan naik 0,25 persen. Dolar Hong Kong berada dalam posisi stabil.
Kondisi tersebut menggambarkan bahwa tekanan terhadap mata uang kawasan masih berlangsung secara beragam, dengan pasar terus mencermati perkembangan dolar AS dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pasar Mencermati Arah Suku Bunga The Fed
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah masih berpotensi bergerak dalam tekanan terhadap dolar AS.
Menurut Lukman, salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah kenaikan imbal hasil obligasi AS yang berkaitan dengan prospek kebijakan suku bunga The Fed.
Situasi tersebut juga menjadi perhatian Bank Indonesia menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 22–23 September 2026. Sejumlah pelaku pasar mencermati keputusan bank sentral Indonesia mengenai arah kebijakan moneternya.
Untuk perdagangan Senin (21/9), Lukman memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.700 hingga Rp17.850 per dolar AS.
Sementara itu, proyeksi Doo Financial Futures yang dikutip Bisnis.com sebelumnya memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS pada awal pekan.
Rupiah Sebelumnya Ditutup di Rp17.758
Pada perdagangan Jumat (18/9/2026), rupiah ditutup di level Rp17.758 per dolar AS, melemah tipis dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan tersebut terjadi ketika pasar mulai mengantisipasi RDG BI yang berlangsung pada pekan ini.
Bank Indonesia sendiri menggunakan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) sebagai harga spot USD/IDR yang disusun berdasarkan transaksi antarbank di pasar valuta asing Indonesia.
JISDOR dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang transaksi spot dolar AS terhadap rupiah dan diumumkan pada hari kerja pukul 15.15 WIB.
Sebagai acuan terakhir yang tersedia sebelum perdagangan Senin, data BI menunjukkan kurs tengah USD pada 18 September berada di sekitar Rp17.753 per dolar AS, sementara kurs transaksi BI mencatat kurs jual Rp17.841,76 dan kurs beli Rp17.664,24.
Mata Uang Asia Bergerak Beragam
Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika mata uang Asia tidak bergerak dalam satu arah.
Pada perdagangan awal pekan, beberapa mata uang kawasan menguat terhadap dolar AS, sementara lainnya mengalami pelemahan atau bergerak stabil.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga sentimen global, terutama perkembangan pasar obligasi AS dan ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral Amerika.
Pasar juga menantikan keputusan Bank Indonesia pada RDG 22–23 September. Hasil pertemuan tersebut menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter domestik dalam waktu dekat.
Apa yang Perlu Dicermati?
Pergerakan rupiah pada awal pekan ini setidaknya akan dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, mulai dari pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, ekspektasi terhadap suku bunga The Fed hingga hasil RDG Bank Indonesia.
Dengan posisi rupiah yang berada di sekitar Rp17.700-Rp17.800 per dolar AS, pasar akan mencermati apakah tekanan terhadap mata uang Garuda berlanjut atau terjadi perubahan sentimen setelah keputusan kebijakan moneter BI.
Untuk masyarakat dan pelaku usaha yang memiliki kebutuhan transaksi dalam dolar AS, perubahan nilai tukar tersebut dapat berpengaruh terhadap biaya impor, pembayaran kewajiban dalam valuta asing maupun aktivitas perdagangan internasional.
Namun, arah rupiah tetap sangat bergantung pada perkembangan pasar keuangan global dan domestik sehingga proyeksi analis perlu dipandang sebagai perkiraan, bukan kepastian pergerakan kurs.***
- Penulis: Hanken Arya

