Defisit APBN Tembus Rp319 Triliun per September 2026, Pemerintah Andalkan Percepatan Belanja Akhir Tahun
- account_circle Ari arjuno
- calendar_month 9 jam yang lalu
- print Cetak

Defisit APBN Tembus Rp319 Triliun per September 2026
Indo1.id – Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp319 triliun hingga akhir September 2026. Angka tersebut setara dengan 1,24 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), meningkat dibandingkan posisi akhir Agustus yang tercatat Rp240,1 triliun.
Kementerian Keuangan mencatat realisasi pendapatan negara hingga akhir September mencapai Rp2.341,5 triliun, sedangkan belanja negara telah mencapai Rp2.660,5 triliun. Selisih antara penerimaan dan pengeluaran tersebut membuat APBN mencatatkan defisit sebesar Rp319 triliun.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan posisi defisit tersebut masih berada dalam koridor rancangan anggaran pemerintah. APBN sejak awal memang dirancang untuk memungkinkan belanja negara lebih besar daripada pendapatan yang dikumpulkan dalam satu tahun anggaran.
Pernyataan itu disampaikan Suahasil dalam acara Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
“Defisit APBN di angka Rp319,0 triliun, dan defisit setara 1,24 persen PDB. Memang APBN kita dari sejak awal didesain untuk defisit,” ujar Suahasil sebagaimana diberitakan sejumlah media ekonomi.
Menurut pemerintah, kebijakan anggaran defisit digunakan untuk mendukung aktivitas ekonomi, membiayai program pembangunan, serta menjaga perlindungan sosial bagi masyarakat.
Meski demikian, perkembangan realisasi pendapatan dan belanja negara tetap menjadi perhatian karena menentukan kemampuan pemerintah menjalankan berbagai program hingga akhir tahun.
Pendapatan Negara Capai 74,5 Persen Target
Hingga penutupan kuartal III 2026, pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.341,5 triliun atau sekitar 74,5 persen dari target tahunan.
Sementara itu, belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun atau sekitar 69 persen dari alokasi yang disiapkan dalam APBN 2026.
Suahasil menilai realisasi pendapatan tersebut masih sesuai dengan tahapan pelaksanaan anggaran. Pada akhir September, tahun anggaran telah berjalan selama tiga perempat periode sehingga penerimaan negara yang telah mencapai sekitar 74,5 persen dinilai masih berada dalam jalur yang direncanakan.
Dari sisi belanja, pemerintah memperkirakan penyerapan anggaran akan meningkat pada kuartal terakhir, terutama selama November dan Desember.
Percepatan tersebut diharapkan dapat mendorong pelaksanaan program pemerintah sekaligus memastikan anggaran yang telah dialokasikan benar-benar digunakan untuk mendukung kegiatan ekonomi dan kebutuhan masyarakat.
Namun, peningkatan belanja pada akhir tahun juga menuntut pengawasan agar pelaksanaannya tetap efektif, tepat sasaran, dan sesuai ketentuan.
Defisit Meningkat, Pengelolaan Anggaran Jadi Sorotan
Kenaikan defisit dari Rp240,1 triliun pada akhir Agustus menjadi Rp319 triliun pada akhir September menunjukkan bahwa selisih antara belanja dan pendapatan negara semakin besar dalam periode tersebut.
Kondisi ini tidak serta-merta berarti Indonesia sedang mengalami krisis fiskal. Defisit merupakan bagian dari desain APBN dan perlu dinilai bersama sejumlah indikator lain, termasuk penerimaan negara, keseimbangan primer, biaya pembiayaan, pertumbuhan ekonomi, serta kemampuan pemerintah memenuhi kewajibannya.
Meski begitu, pemerintah tetap perlu menjaga kualitas belanja dan memastikan penerimaan negara tumbuh secara berkelanjutan.
Pendapatan yang kuat akan memberikan ruang lebih besar bagi pemerintah untuk membiayai pembangunan, sementara belanja yang efisien diperlukan agar manfaat anggaran dapat dirasakan masyarakat secara optimal.
Dalam konteks tersebut, tantangan pemerintah bukan hanya menjaga angka defisit agar sesuai target, tetapi juga memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial yang sepadan.
Dampaknya bagi Masyarakat
Pelaksanaan APBN memiliki hubungan langsung dengan kehidupan masyarakat. Anggaran negara membiayai berbagai kebutuhan, mulai dari pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, subsidi, hingga program perlindungan sosial.
Karena itu, perkembangan defisit perlu dilihat bersama kualitas program yang dibiayai pemerintah.
Apabila belanja negara terserap dengan baik dan diarahkan pada kegiatan produktif, anggaran dapat membantu menjaga aktivitas ekonomi, mendukung dunia usaha, serta memperluas manfaat pembangunan.
Sebaliknya, belanja yang tidak tepat sasaran atau terlambat direalisasikan dapat mengurangi efektivitas program yang telah direncanakan.
Masyarakat juga berkepentingan agar pemerintah menjaga transparansi pengelolaan anggaran, terutama ketika belanja negara dipercepat menjelang akhir tahun.
Keterbukaan mengenai penggunaan anggaran dan hasil program menjadi penting agar publik dapat menilai apakah belanja negara benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Pemerintah Dituntut Menjaga Kredibilitas APBN
Pemerintah menegaskan APBN akan terus diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus melindungi masyarakat. Karena itu, keseimbangan antara penerimaan, belanja dan pembiayaan perlu terus dijaga.
Defisit Rp319 triliun hingga September 2026 menjadi salah satu indikator yang perlu dipantau menjelang penutupan tahun anggaran. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada realisasi pendapatan, percepatan belanja, serta pengelolaan pembiayaan pemerintah.
Bagi pemerintah, menjaga kredibilitas APBN bukan sekadar persoalan memenuhi target angka. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan anggaran negara dikelola secara bertanggung jawab, transparan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Publik kini menantikan bagaimana pemerintah mengelola sisa anggaran 2026, terutama ketika percepatan belanja direncanakan berlangsung pada November dan Desember.
Keberhasilan pelaksanaan APBN pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa besar anggaran terserap, tetapi juga dari dampaknya terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.
- Penulis: Ari arjuno

