Unjuk Rasa Perempuan Bosnia, Tolak Nobel Sastrawan Peter Handke
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Kamis, 7 Nov 2019
- print Cetak

Peter Handke
Indo1.id Internasional – Beberapa perempuan asal Srebrenica, Bosnia Herzegovina, melakukan unjuk rasa di Ibu Kota Sarajevo menolak keputusan komite penghargaan Nobel yang memberi anugerah sastra kepada sastrawan Austria, Peter Handke (76).
Sebeb Handke dinilai mendukung kekejaman pasukan Serbia dan penjahat perang, mendiang Slobodan Milosevich, saat konflik di bekas wilayah Yugoslavia pada 1990-an.
Seperti dilansir oleh AFP, Rabu 6 Nopember 2019, aksi unjuk rasa itu digelar di depan kedutaan besar Swedia di Sarajevo. Bersamaan ketika Putri Mahkota Victoria dan suaminya, Pangeran Daniel, sedang melakukan kunjungan.
Rencaranya, para perempuan itu akan kembali menggelar aksi protes setiap pekan sampai upacara penyerahan hadiah Nobel yang akan berlangsung pada 10 Desember nanti.
Meraka (pengunjuk rasa) menyerahkan surat kepada duta besar Swedia meminta agar mereka untuk tidak menyerahkan hadiah Nobel kepada Handke. Dengan alasan hal tersebut bisa mempermalukan bangsa Swedia.
“Kami tidak setuju dengan menganugerahi seseorang yang mendukung kejahatan dan pembantaian massal,” ujar Munira Subasic, pemimpin asosiasi orang tua korban pembantaian Srebrenica.
Dalam suratnya, para pengunjuk rasa menyatakan pemberian hadiah Nobel kepada Handke sama dengan mempermalukan bangsa Bosnia.
Demonstran juga membawa poster yang berisi foto Handke saat mengunjungi lokasi pembantaian di Srebrenica, setahun pasca kejadian. Di dalam foto itu dia terlihat berdiri di depan papan petunjuk kota.
Pada Juli 1995, pasukan Bosnia Serbia membantai sekitar 8000 pemuda dan lelaki Muslim Bosnia di Srebrenica.
Pada 1997, Handke disebut sengaja merekayasa fakta untuk tidak menonjolkan kekejaman pasukan Serbia dalam buku A Journey to the Rivers: Justice for Serbia.
Selain itu, Handke juga dikritik ketika sambutan dalam upacara penguburan Milosevich pada 2006. Saat itu Milosevich meninggal saat tengah menunggu persidangan atas dugaan kejahatan genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan. (vap/I1**)sumber: CNN
- Penulis: Tim Redaksi


Saat ini belum ada komentar