Sejarah Kesenian Masyarakat Sendangguwo Semarang.
- account_circle M Effendi
- calendar_month Jumat, 3 Feb 2023
- print Cetak

๐๐ช๐ต๐ถ๐ด ๐๐ฆ๐ซ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ ๐๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ธ๐ฐ ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ.
Indo1.id II Sendangguwo, Kelurahan Gemah, Kecamatan Tembalang, Semarang. Terdapat sebuah legenda mengenai asal-usul nama daerah Sendangguwo, cerita sejarah mengenai sebuah tapak petilasan Sunan Kalijaga dan juga makam seorang muridnya yang bernama Nyai Rebon, yang konon katanya berasal dari Cirebon.
Kisah dan cerita mistis menyelimuti Desa Sendangguwo ini, kisah itulah yang menambah khazanah budaya dari masyarakat setempat sehingga banyak sekali hal yang dapat diulas dari fenomena tersebut.
Kisah tersebut sangat berpengaruh terhadap kehidupan kesenian tradisioanal masyarakatnya, sehingga cerita-cerita tersebut memberikan kesan khas kearifan masyarakat lokal yang masih mengembangkan dan mempercayai cerita serta mitos yang ada, dan menghormatinya dalam bentuk mengembangkan kesenian untuk mengingat legenda tersebut.
sendang dan guwo berasal dari bahasa Jawa yang berarti kubangan air dan goa.
Lokasi sendang dan goa ini terbilang cukup berdekatan, sehingga kemudian masyarakat menyebut daerah ini sebagai Sendangguwo.
Menurut penuturan Mbah Slamet, lokasi sendang dan goa ini dianggap keramat.
Jaman dahulu masyarakat sudah tidak berani mengambil air di sendang setelah waktu maghrib, karena dianggap akan mendatangkan masalah dan juga ketakutan warga jika melihat atau mengalami sesuatu yang tidak diinginkan dan berkaitan dengan hal-hal ghaib.
Cerita lain yang cukup terkenal dikawasan Sendangguwo ini, yaitu gamelan ghaib. Gamelan ghaib ini berlokasi di goa. Konon, pada jaman dahulu gamelan ini digunakan ketika ada masyarakat yang memiliki hajat pernikahan, khitanan, atau yang lainnya.
Konon, gamelan ini akan muncul dengan sendirinya dibibir goa sehingga nantinya sipemilik hajat dapat mengambil gamela tersebut untuk ia gunakan dalam acara hajatnya.
Dengan banyaknya legenda, cerita, kisah serta mitos yang beredar dalam masyarakat Sendangguwo ini, tentunya menambha khazanah serta kajian kajian kebudayaan masyarakat lokal yang ada. Masyarakat sangat menghargai berbagai cerita rakyat yang berekembang di daerah mereka tinggal.
Masyarakat juga menjaga serta merawat tampat-tempat yang dianggap memliki kisah penting pada masa lampau tersebut. Untuk menghargai tempat serta melestarikan budaya, setiap malam jumat diadakan pengajian khusus untuk pria di lokasi dekat punden tersebut.
- Penulis: M Effendi


Saat ini belum ada komentar