Ilmuwan Albert Einstein mengatakan melalui teori relativitas umum dan relativitas khusus bahwa saat waktu melambat dan mendekati kecepatan cahaya, materi membutuhkan energi yang sangat besar.
Agus Purwanto, guru besar fisika Institut Teknologi Surabaya (ITS), mengutip laman resmi Muhammadiyah mengatakan, peristiwa Isra Miraj tidak bisa dijelaskan dengan teori relativitas khusus Einstein.
Agus juga mengatakan Isra Miraj bisa menggunakan relativitas umum.
Agus melihat teori ini menunjukkan “keberadaan ruang dan dimensi tinggi, immaterial atau magis, di sekitar manusia”.
Thomas Jamaluddin, Profesor Studi Astronomi-Astrofisika di Organisasi Penelitian Penerbangan dan Antariksa (ORPA), Pusat Penelitian Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengungkapkan bahwa Isra Miraj adalah perjalanan antardimensi.
“Dan dengan Buroq (Rasulullah SAW) keluar dari dimensi waktu dan ruang. Pertemuan di langit itu penggambaran Rasul tidak lagi terikat pada waktu,” ungkap Thomas.
“Jadi tidak perlu lagi ditanyakan, dan tidak relevan lagi untuk menanyakan di mana “pertemuan di langit ketujuh” itu berasal,” tambahnya.








