Mengenal Pranoto Mongso, Kalender Musim Khas Jawa yang Masih Relevan Bagi Petani

  • Bagikan

Petani menyiapkan lahan untuk menanam padi.

– Kalima, mulai 13 Oktober, berusia 27 hari. Musim ini ditandai dengan hujan pertama turun dan suhu udara turun. Petani menanam padi.

– Kanem, mulai 9 November, berusia 43 hari. Musim ini ditandai dengan hujan lebat dan angin kencang. Padi mulai tumbuh subur.

– Kapitu, mulai 22 Desember, berusia 43 hari. Musim ini ditandai dengan hujan terus-menerus dan banjir di beberapa tempat. Padi mulai menguning.

Baca Juga :  Simak Tips Mengembangkan Kreativitas Anak, Penting untuk Masa Depan!

– Kawolu, mulai 3 Februari, berusia 26 atau 27 hari. Musim ini ditandai dengan hujan mulai reda dan angin timur bertiup. Padi mulai dipanen.

– Kasanga, mulai 1 Maret, berusia 25 hari. Musim ini ditandai dengan cuaca cerah dan angin timur kencang. Petani membakar jerami di sawah.

– Kasadasa, mulai 26 Maret, berusia 24 hari. Musim ini ditandai dengan cuaca panas dan kering. Petani menyiapkan lahan untuk menanam palawija.

Baca Juga :  10 Ciri-Ciri Seseorang yang ' Introvert ', Kepribadian yang Cenderung Tenang dan Reflektif

– Dhesta, mulai 19 April, berusia 23 hari. Musim ini ditandai dengan cuaca panas dan angin barat bertiup lemah-lembut. Petani menanam palawija.

– Sadha, mulai 12 Mei, berusia 41 hari. Musim ini ditandai dengan cuaca panas dan kering sekali. Palawija tumbuh subur.

Pranoto mongso merupakan warisan budaya Jawa yang masih relevan bagi petani hingga saat ini.
Pranoto mongso membantu petani menentukan waktu yang tepat untuk bercocok tanam sesuai dengan kondisi alam.

Baca Juga :  Resep Wedang Uwuh Khas Jawa, Minuman Rempah yang Menggoda Selera, Seruput!

Pranoto mongso juga mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam dan menghargai siklus kehidupan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan