Menyedihkan, Kekerasan yang Menargetkan Etnis Tertentu, Semakin Memburuk di Darfur, Sudan!
- account_circle Nugroho
- calendar_month Rabu, 12 Jul 2023
- print Cetak

Penderitaan warga Darfur, Sudan. (Foto: al Jazeera)
Indo1.id – Darfur, sebuah wilayah di Sudan Barat, kembali dilanda kekerasan yang menargetkan kelompok etnis minoritas, terutama Massalit dan Fur.
Sebuah laporan dari Human Rights Watch (HRW) menuduh pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) dan milisi Arab melakukan pembunuhan massal, pembakaran desa, dan kejahatan perang lainnya di Darfur sejak konflik antara tentara Sudan dan RSF meletus pada April 2023.
Kekerasan ini mengingatkan pada perang Darfur pada 2003-2008, yang menyebabkan ratusan ribu orang tewas dan jutaan orang mengungsi akibat pembersihan etnis yang dilakukan oleh pemerintah Sudan dan milisi Janjaweed terhadap kelompok etnis non-Arab di Darfur.
HRW mendesak Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk menyelidiki kejahatan perang di Darfur dan menuntut pertanggungjawaban para pelakunya.
Salah satu contoh kekerasan yang terjadi di Darfur adalah serangan terhadap kota Misterei, yang mayoritas penduduknya adalah etnis Massalit, pada 28 Mei 2023.
Menurut laporan HRW, RSF dan milisi Arab menyerbu kota ini dengan senjata api, pisau, dan bom molotov.
Mereka membunuh setidaknya 28 orang Massalit secara sembarangan, melukai puluhan warga sipil lainnya, dan membakar sebagian besar bangunan di kota ini.
Para penyerang juga mengejar warga sipil yang melarikan diri atau bersembunyi dari konflik, dan menembaki mereka di jalan-jalan, rumah-rumah, masjid-masjid, dan sekolah-sekolah.
Di sebuah sekolah, para penyerang masuk ke dalam kelas-kelas dan mengeksekusi laki-laki yang mereka temukan di sana. Mereka juga menembak anak-anak dan perempuan.
Para korban selamat dari serangan itu mengatakan bahwa para penyerang berasal dari RSF dan milisi Arab dari daerah tetangga.
Mereka mengenakan seragam militer atau pakaian sipil dengan syal atau ikat kepala berwarna hijau atau merah.
Beberapa dari mereka juga membawa bendera RSF atau Sudan.
Selain Misterei, HRW juga melaporkan bahwa enam kota dan desa lain di Darfur Barat juga dibakar oleh RSF dan milisi Arab pada bulan Mei dan Juni 2023.
Kota dan desa tersebut adalah Molle, Murnei, Gokor, Kondoli, Um Ajaja, dan Um Zeifa.
Citra satelit dan data deteksi api menunjukkan bahwa sebagian besar bangunan di kota dan desa tersebut hancur akibat api.
Banyak warga sipil yang melarikan diri dari kekerasan ini ke negara tetangga Chad.
Beberapa dari mereka melaporkan melihat mayat-mayat di sepanjang jalan.
Menurut PBB, sekitar 217.000 orang telah mengungsi ke Chad sejak konflik di Sudan meletus pada April 2023.
Konflik di Sudan bermula ketika dua jenderal bersaing memperebutkan kekuasaan setelah kudeta militer yang menggulingkan Perdana Menteri Abdalla Hamdok pada 25 Oktober 2023.
Jenderal Abdel Fattah al-Burhan mengklaim sebagai pemimpin negara sementara dengan dukungan RSF yang dipimpin oleh Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo alias Hemeti.
Namun, Jenderal Abdelaziz al-Hilu, pemimpin gerakan pemberontak Sudan People’s Liberation Movement-North (SPLM-N), menolak kudeta tersebut dan mendeklarasikan dirinya sebagai pemimpin negara alternatif dengan dukungan Sudanese Armed Forces (SAF) yang dipimpin oleh Jenderal Abdelrahim Hamdan.
Kedua kubu militer ini kemudian terlibat dalam pertempuran sengit di berbagai wilayah Sudan, termasuk Darfur.
Di sana, RSF dan milisi Arab bersekutu dengan kubu al-Burhan, sementara SAF dan kelompok etnis non-Arab bersekutu dengan kubu al-Hilu.
Konflik ini mengancam proses transisi demokrasi yang sedang berlangsung di Sudan sejak penggulingan diktator Omar al-Bashir pada 2019.
Al-Bashir sendiri telah dituntut oleh ICC atas tuduhan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang yang terkait dengan perang Darfur pada 2003-2008.
HRW mendesak ICC untuk menyelidiki kejahatan perang yang terjadi di Darfur dan menuntut pertanggungjawaban para pelakunya, termasuk para pemimpin RSF dan milisi Arab.
HRW juga mendesak mitra internasional dan regional Sudan untuk memberlakukan sanksi terhadap para pelaku kekerasan dan mendukung upaya perdamaian dan perlindungan warga sipil di Sudan.
“Sejak konflik di Sudan meletus pada April, beberapa kekejaman terburuk terjadi di Darfur Barat,” kata Jean-Baptiste Gallopin, peneliti senior krisis dan konflik di HRW.
“Kisah-kisah para korban selamat dari serangan-serangan terbaru di Darfur Barat mengingatkan pada kengerian, kehancuran, dan putus asa Darfur 20 tahun lalu,” katanya.
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar