Mitos dan Sejarah Pantai Ngobaran, Pantai yang Disebut-sebut sebagai Tempat Akhir Raja Brawijaya V
- account_circle Nugroho
- calendar_month Kamis, 13 Jul 2023
- print Cetak

Pantai Ngobaran Gunung Kidul Yogjakarta, dijuluki Bali Van Java. (Foto: instagram @sandratefaaaa)
Indo1.id – Pantai Ngobaran adalah salah satu pantai yang terkenal di Yogyakarta. Pantai ini memiliki julukan ‘Bali of Java’ karena keindahan alamnya yang mirip dengan pantai di Bali.
Pantai Ngobaran berada di kawasan wisata pantai Gunung Kidul di Jl. Ngobaran, Ngrenehan, Sapto Sari, Gebang, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Gunung Kidul.
Pantai Ngobaran memiliki pasir putih yang bersih dan halus, air laut yang biru dan jernih, serta ombak yang tenang.
Pantai ini juga dikelilingi oleh tebing-tebing karang yang menjulang tinggi dan ditumbuhi oleh pepohonan hijau.
Di pantai ini, pengunjung bisa menikmati pemandangan matahari terbit dan terbenam yang indah.
Selain keindahan alamnya, pantai Ngobaran juga memiliki nilai budaya yang tinggi.
Pantai ini diyakini sebagai tempat Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit berakhir.
Konon, raja terakhir Majapahit tersebut bertransformasi menjadi landak laut setelah melakukan upacara muksa atau melepaskan diri dari dunia.
Mitos dan sejarah pantai Ngobaran berkaitan dengan legenda Raja Brawijaya V yang merupakan raja terakhir dari Kerajaan Majapahit.
Menurut cerita rakyat, Raja Brawijaya V memerintah Majapahit pada abad ke-15 Masehi.
Pada masa itu, Majapahit mengalami kemunduran akibat serangan dari Kerajaan Demak.
Raja Brawijaya V tidak mampu mempertahankan kerajaannya dan akhirnya melarikan diri ke arah timur bersama beberapa pengikutnya.
Salah satu tempat persembunyiannya adalah di Gunung Kidul, tepatnya di Desa Kanigoro.
Di sana, ia mendirikan sebuah pura untuk bersembahyang kepada Dewa Wisnu.
Namun, Raja Brawijaya V tidak merasa tenang di tempat itu karena merasa masih terikat oleh dunia.
Ia pun memutuskan untuk melakukan upacara muksa atau melepaskan diri dari dunia dengan cara bertransformasi menjadi landak laut.
Ia memilih pantai Ngobaran sebagai tempat upacara muksa tersebut.
Upacara muksa dilakukan dengan cara membakar diri sendiri di atas tumpukan kayu kering di pinggir pantai.
Setelah api menyala, tubuh Raja Brawijaya V berubah menjadi landak laut dan melompat ke laut. Ia pun menghilang bersama ombak dan tidak pernah terlihat lagi.
Sejak saat itu, pantai Ngobaran menjadi tempat suci bagi masyarakat sekitar.
Mereka percaya bahwa roh Raja Brawijaya V masih berada di sana dan memberikan berkah bagi mereka.
Mereka pun rutin melakukan ritual untuk menghormati raja terakhir Majapahit tersebut.
Ritual yang dilakukan adalah dengan membawa sesaji berupa bunga-bunga segar dan menaburkannya ke laut sambil membaca doa-doa.
Mereka juga membawa dupa dan kemenyan untuk mengharumkan udara di sekitar pantai.
Ritual ini biasanya dilakukan pada hari-hari tertentu seperti hari raya Hindu atau hari Jumat Kliwon.
Selain ritual tersebut, masyarakat sekitar juga membangun beberapa bangunan untuk mengenang Raja Brawijaya V.
Di antaranya adalah pura Hindu yang bernama Pura Palgading dan masjid Jawa yang bernama Masjid Krapyak.
Kedua bangunan ini berdiri berdampingan di atas tebing karang yang menghadap ke laut.
Pura Palgading dan Masjid Krapyak merupakan simbol dari toleransi dan kerukunan antara umat beragama di pantai Ngobaran.
Di sana, pengunjung bisa melihat pemandangan yang unik yaitu adanya bendera merah putih, bendera Bali, dan bendera Jawa yang berkibar bersama.
Di sana juga terdapat gapura bertuliskan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ yang merupakan moto dari negara Indonesia.
Pantai Ngobaran merupakan salah satu destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi.
Di sana, pengunjung bisa menikmati keindahan alam dan nilai budaya yang tinggi.
Pantai ini juga menjadi saksi bisu dari mitos dan sejarah Raja Brawijaya V yang melegenda.
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar