Ngeri! Laut Mati Menyusut 1,2 Meter per Tahun, Apa Penyebab dan Dampaknya?
- account_circle Nugroho
- calendar_month Selasa, 15 Agt 2023
- print Cetak

Laut Mati yang merupakan Pantai/danau terendah di bumi. (Foto: instagram @mendiacom)
Indo1.id – Laut Mati, sebuah danau garam yang terletak di perbatasan antara Israel, Palestina, dan Yordania, mengalami fenomena penyusutan yang mengkhawatirkan.
Menurut data yang dirilis oleh Kementerian Perlindungan Lingkungan Israel, ketinggian permukaan air Laut Mati turun sekitar 1,2 meter setiap tahun.
Penyusutan Laut Mati ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain:
– Pengambilan air dari sungai-sungai yang mengalir ke Laut Mati, terutama Sungai Yordan, untuk keperluan pertanian dan industri.
Hal ini menyebabkan aliran air ke Laut Mati berkurang drastis.
– Penguapan air yang tinggi akibat suhu dan iklim yang panas di kawasan tersebut.
Laut Mati memiliki tingkat salinitas yang sangat tinggi, yaitu sekitar 34 persen, sehingga airnya mudah menguap.
– Pembangunan bendungan dan saluran air oleh negara-negara sekitar untuk mengendalikan banjir dan mengairi lahan.
Hal ini juga mengurangi pasokan air ke Laut Mati.
– Pembangunan hotel-hotel dan resor-resor di sekitar pantai Laut Mati untuk menarik wisatawan.
Hal ini juga mempengaruhi keseimbangan ekosistem dan lingkungan di sana.
Penyusutan Laut Mati ini memiliki dampak negatif bagi lingkungan dan masyarakat, antara lain:
– Munculnya lubang-lubang runtuhan atau sinkhole di sekitar pantai Laut Mati.
Sinkhole adalah lubang besar yang terbentuk akibat erosi tanah di bawah permukaan.
Sinkhole bisa menelan bangunan, kendaraan, atau bahkan manusia yang berada di atasnya.
– Menurunnya kualitas air Laut Mati yang semakin asin dan kotor.
Hal ini berdampak pada kesehatan dan kecantikan kulit para pengunjung yang mandi atau berendam di sana.
Air Laut Mati juga menjadi tidak ramah bagi makhluk hidup lainnya, seperti ikan atau tumbuhan.
– Berkurangnya pendapatan dari sektor pariwisata yang bergantung pada daya tarik Laut Mati.
Banyak wisatawan yang tertarik untuk berkunjung ke Laut Mati karena manfaat kesehatannya atau keunikannya.
Namun, jika Laut Mati terus menyusut, maka wisatawan akan berkurang atau beralih ke tempat lain.
– Terancamnya warisan budaya dan sejarah yang terkait dengan Laut Mati.
Laut Mati merupakan tempat yang memiliki nilai religius dan spiritual bagi umat Yahudi, Kristen, dan Islam.
Laut Mati juga menjadi saksi bisu dari peradaban kuno, seperti Sodom dan Gomora.
Untuk mengatasi masalah penyusutan Laut Mati ini, diperlukan kerja sama antara negara-negara sekitar dan komunitas internasional.
Beberapa upaya yang bisa dilakukan adalah:
– Menghemat penggunaan air dari sungai-sungai yang mengalir ke Laut Mati, terutama Sungai Yordan.
Hal ini bisa dilakukan dengan meningkatkan efisiensi irigasi, menggunakan teknologi daur ulang air, atau mencari sumber air alternatif lainnya.
– Membangun saluran air dari Laut Merah atau Laut Mediterania ke Laut Mati untuk menambah pasokan air ke sana.
Hal ini sudah direncanakan sejak lama oleh Israel, Yordania, dan Palestina dengan dukungan Bank Dunia.
Namun, proyek ini masih menghadapi banyak kendala teknis, politis, dan lingkungan.
– Melindungi ekosistem dan lingkungan di sekitar Laut Mati dari pembangunan yang tidak terkontrol.
Hal ini bisa dilakukan dengan memberlakukan peraturan-peraturan yang ketat tentang pengelolaan lahan, limbah, dan polusi di sana.
Selain itu, juga perlu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya melestarikan Laut Mati.
– Mempromosikan Laut Mati sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Hal ini bisa dilakukan dengan mengembangkan produk-produk wisata yang ramah lingkungan, seperti ekowisata, edukasi, atau konservasi.
Selain itu, juga perlu memberikan informasi yang akurat dan menarik tentang Laut Mati kepada wisatawan.
Laut Mati adalah danau garam yang memiliki keunikan dan keindahan yang luar biasa.
Namun, Laut Mati juga menghadapi ancaman penyusutan yang serius.
Oleh karena itu, kita perlu bersama-sama menjaga dan melestarikan Laut Mati agar tetap eksis dan bermanfaat bagi generasi mendatang.
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar