Mitos Leuweung Sancang, Hutan Keramat yang Menyimpan Mitos Prabu Siliwangi
- account_circle Nugroho
- calendar_month Kamis, 26 Okt 2023
- print Cetak

Hutan Leuweung Sancang yang terkenal angker. (Foto: Mongabay)
Indo1.id – Leuweung Sancang adalah sebuah hutan yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Hutan ini memiliki luas sekitar 5.000 hektar dan merupakan salah satu kawasan konservasi alam yang masih terjaga keasriannya.
Hutan ini juga memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi, seperti pohon meranti, jati, kaboa, pinus, macan tutul, lutung, rusa, dan burung.
Namun, selain keindahan alamnya, hutan ini juga menyimpan mitos yang melegenda di kalangan masyarakat Sunda.
Mitos tersebut berkaitan dengan sosok Prabu Siliwangi, raja terakhir Kerajaan Padjajaran yang menghilang di hutan ini.
Prabu Siliwangi merupakan salah satu tokoh sejarah yang paling dihormati dan dikagumi oleh masyarakat Sunda karena kebijaksanaan, keberanian, dan kesaktiannya.
Menurut cerita yang beredar, Prabu Siliwangi menghilang di hutan Leuweung Sancang pada abad ke-16 Masehi.
Saat itu, ia sedang menghadapi konflik dengan anaknya sendiri, yaitu Prabu Kian Santang. Prabu Kian Santang merupakan anak ketiga Prabu Siliwangi dari pernikahannya dengan Nyi Mas Subanglarang.
Prabu Kian Santang telah memeluk agama Islam dan ingin mengislamkan ayahnya. Namun, Prabu Siliwangi menolak dan tetap memegang teguh agama dan adat leluhurnya.
Untuk menghindari pertumpahan darah antara ayah dan anak, Prabu Siliwangi memutuskan untuk meninggalkan istananya di Pakuan Padjajaran dan mengembara ke arah selatan.
Ia membawa sejumlah pengikut setianya dan berhenti di hutan Leuweung Sancang. Di sana, ia bertemu dengan adiknya, yaitu Maharaja Dilewa, yang menjadi raja Kerajaan Sancang.
Prabu Kian Santang tidak menyerah dan terus mengejar ayahnya hingga sampai di hutan Leuweung Sancang.
Namun, ia tidak berhasil menemukan jejak ayahnya. Sebab, menurut mitos, Prabu Siliwangi telah berubah wujud menjadi seekor macan putih atau maung sancang.
Demikian pula para pengiringnya yang berubah menjadi macan-macan lainnya.
Sebelum berubah wujud, Prabu Siliwangi sempat menorehkan sebuah kalimat pada kulit sebatang pohon kaboa dengan menggunakan pisau pangot.
Kalimat tersebut berbunyi: “Kaboa panggih, kaboa moal; tapak lacak kaula ku anak incu”. Artinya: “Kaboa bertemu, kaboa tidak; jejak kaki saya oleh anak cucu”.
Kalimat ini menjadi pesan terakhir Prabu Siliwangi kepada anak cucunya agar tidak mencari-cari dirinya lagi.
Mitos tentang Prabu Siliwangi di hutan Leuweung Sancang masih dipercaya oleh banyak orang hingga kini.
Hutan ini dianggap sebagai tempat keramat yang harus dihormati dan dijaga. Banyak orang yang datang ke hutan ini untuk berziarah, bermeditasi, atau mencari ilmu gaib.
Namun, ada juga orang yang mengaku melihat penampakan macan putih atau mendengar suara harimau mengaum di hutan ini.
Leuweung Sancang adalah hutan keramat yang menyimpan mitos Prabu Siliwangi. Mitos ini menceritakan tentang hilangnya raja terakhir Kerajaan Padjajaran yang berubah wujud menjadi macan putih di hutan ini.
Mitos ini menunjukkan bahwa Prabu Siliwangi merupakan sosok yang sangat berpengaruh dan disegani oleh masyarakat Sunda.
Apakah Anda tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang mitos hutan Leuweung Sancang?
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar