Rifqi Noor Afwan, salah satu anggota Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI), mengatakan bahwa ritual ini sebenarnya termasuk ke dalam kearifan lokal yang harus dihormati.
Namun, ia berharap ada tanggung jawab dari pengunjung maupun petugas untuk membersihkan sampah-sampah dari pakaian dalam yang dibuang.
“Kearifan lokal itu kan hal yang bagus ya. Tapi, baiknya setelah melakukan ritual itu ada yang membereskan atau membersihkan. Karena kalau tidak, akan jadi sampah,” kata Rifqi.
Ia juga menyarankan agar biaya tiket masuk yang dibayar oleh pengunjung sudah termasuk alokasi khusus untuk membersihkan sampah-sampah tersebut.
Sehingga, meski bukan pengunjung yang membersihkan, mereka tetap bertanggung jawab akan sampah yang ditimbulkan.
Ritual buang sial dengan membuang celana dalam di Gunung Sanggabuana merupakan salah satu contoh dari keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia.
Namun, keanekaragaman tersebut juga harus diimbangi dengan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan








