Korupsi di Indonesia, Ketika Rasa Malu Tak Lagi Menjadi Penghalang

  • Bagikan
Korupsi di Indonesia, Ketika Rasa Malu Tak Lagi Menjadi Penghalang ( Foto: Ilustrasi /aa/id )

Indo1.id – Opini – Ketika korupsi menjadi hal biasa, maka kehancuran sebuah bangsa bukan lagi sekadar kemungkinan—ia hanya tinggal menunggu waktu.

Dan Indonesia, tampaknya tengah berjalan di jalur itu, perlahan namun pasti.

Skandal Tanpa Henti, Reaksi yang Terus Melemah

Setiap tahun, daftar pelaku korupsi bertambah. Ironisnya, tidak berbanding lurus dengan membaiknya indeks persepsi korupsi kita.

Baca Juga :  Upaya memperkuat SDM pada Bidang Kemaritiman Melalui Kerjasama Lintas Sektoral untuk Mendukung Pertahanan Negara

Transparency International mencatat, skor Indonesia pada tahun 2024 hanya 34 dari 100, turun dari tahun-tahun sebelumnya.

Artinya, dari sudut pandang internasional, negeri ini dianggap masih jauh dari bersih.

Yang lebih menyakitkan, publik semakin apatis. Ketika seorang pejabat tertangkap tangan, bukan kemarahan yang menggelora, melainkan gumaman: “Lagi-lagi.”

Inilah barangkali kerusakan yang paling mengkhawatirkan: ketika masyarakat mulai memaklumi kejahatan sebagai keniscayaan.

Baca Juga :  Kerusakan Museum Dewantara, Bukti 'Generasi Muda Indonesia Tidak Paham Sejarah'!

Korupsi: Kejahatan yang Menyerang dari Dalam

Korupsi bukan sekadar penggelapan dana. Ia adalah racun yang merusak sistem dari dalam.

Ia menggerogoti kepercayaan publik, menurunkan moralitas kolektif, dan melanggengkan kemiskinan struktural.

Dalam banyak kasus, korupsi bukan lagi dilakukan dalam kesunyian, tetapi dalam terang. Tidak lagi malu-malu, karena malu telah lama dibuang dari kamus kekuasaan.

Baca Juga :  Refleksi 15 Tahun Bawaslu: Ikhtiar Mengawal Demokrasi Bangsa

Dan ini yang membuat korupsi di Indonesia begitu sulit diberantas: ia sudah terlalu dalam tertanam, terlalu luas menjalar, dan terlalu nyaman didiamkan.

  • Bagikan