Indo1.id – Setiap tahun, kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional.
Namun tiap kali pula muncul pertanyaan lama yang belum terjawab: Apakah bangsa ini sungguh sudah bangkit? Atau kita hanya nyaman dalam upacara dan retorika?
Boedi Oetomo berdiri pada 20 Mei 1908 bukan untuk dikenang, tetapi untuk diteruskan. Ia lahir dari kegelisahan intelektual yang sadar: kemerdekaan hanya bisa dicapai jika bangsa ini bersatu, berpendidikan, dan bergerak.
Di tengah keterbatasan, para pemuda saat itu mampu menyalakan api kesadaran nasional yang menyatukan perbedaan.
Namun 117 tahun kemudian, api itu terasa meredup. Kita menghadapi penjajahan bentuk baru: kemiskinan struktural, intoleransi yang dibungkus dalil, krisis keadaban digital, dan ketimpangan sosial yang dibiarkan menjadi kebiasaan.
Di mana letak kebangkitan ketika hoaks lebih dipercaya daripada data? Ketika pendidikan dibatasi pada nilai ujian, bukan nilai hidup? Ketika suara rakyat masih kalah dengan kepentingan politik?
Kebangkitan hari ini adalah keberanian untuk memperbaiki. Untuk berkata tidak pada pembiaran.
Untuk melihat kemajuan bukan dari pencitraan, tetapi dari kesejahteraan nyata rakyat kecil. Bangkit berarti mengangkat martabat semua, bukan hanya sebagian.
Jangan jadikan Hari Kebangkitan Nasional sebagai momen nostalgia.
Jadikan ia sebagai teguran: bahwa kita belum selesai dengan pekerjaan rumah besar bernama Indonesia. Karena bangsa ini bukan milik masa lalu, tetapi tanggung jawab masa depan.
Bangkitlah, Indonesia. Tapi kali ini, sungguh-sungguh.!!***