Berita  

Hari Kesaktian Pancasila 2026, Prabowo Pimpin Upacara di Lubang Buaya

Hari Kesaktian Pancasila 2026, Prabowo Pimpin Upacara di Lubang Buaya

Indo1.id – Presiden Prabowo Subianto memimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026 di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Kamis (1/10/2026).

Prabowo tiba di lokasi sekitar pukul 07.57 WIB untuk memimpin langsung upacara yang setiap tahun digelar pada 1 Oktober tersebut. Presiden hadir didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun ini kembali menempatkan Monumen Pancasila Sakti sebagai lokasi utama upacara kenegaraan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebelumnya menyampaikan bahwa penyelenggaraan upacara tingkat pusat pada 1 Oktober 2026 dilaksanakan di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya.

Sebelum memasuki acara pokok, rangkaian kegiatan di lokasi telah berlangsung sejak pagi. Salah satunya penampilan paduan suara pelajar yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan.

Mengenang Para Pahlawan Revolusi

Hari Kesaktian Pancasila tidak dapat dipisahkan dari rangkaian peristiwa politik dan kekerasan yang terjadi pada akhir September hingga awal Oktober 1965.

Dalam peristiwa tersebut, enam jenderal TNI Angkatan Darat dan satu perwira pertama, Pierre Andreas Tendean, menjadi korban penculikan dan pembunuhan. Mereka kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi.

Baca Juga :  Penuh Haru, Ferdy Sambo Ucapkan Selamat Ulang Tahun ke Putri Sulungnya !

Enam jenderal tersebut adalah Letjen Ahmad Yani, Mayjen R. Suprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, dan Brigjen Sutoyo Siswomiharjo.

Jenazah para korban kemudian ditemukan di sebuah sumur di kawasan Lubang Buaya. Lokasi tersebut selanjutnya menjadi bagian penting dari Monumen Pancasila Sakti dan menjadi tempat yang secara rutin digunakan untuk peringatan Hari Kesaktian Pancasila tingkat nasional.

Prabowo Kunjungi Sumur Lubang Buaya

Setelah memimpin upacara, Prabowo juga mengunjungi Sumur Lubang Buaya yang berada di kompleks Monumen Pancasila Sakti.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk mengenang para Pahlawan Revolusi yang menjadi korban dalam rangkaian peristiwa 1965.

Prabowo datang bersama Gibran. Sejumlah pimpinan lembaga negara turut mendampingi, antara lain Ketua DPR RI Puan Maharani, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, dan Ketua DPD RI Sultan B. Najamudin.

Kehadiran para pimpinan lembaga negara di lokasi tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan nasional yang setiap tahun digelar untuk mengenang para korban sekaligus mengingatkan kembali perjalanan sejarah bangsa.

Berbeda dengan Hari Lahir Pancasila

Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober berbeda dengan Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni.

Baca Juga :  Sekjen SOKSI Dr. Ilyas Indra Apresiasi Golkar atas Penunjukan Gibran Sebagai Cawapres Mewakili Kaum Muda

Hari Lahir Pancasila berkaitan dengan pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 mengenai dasar negara. Sementara Hari Kesaktian Pancasila berkaitan dengan rangkaian peristiwa 1965 dan sejarah penetapan 1 Oktober sebagai hari peringatan nasional.

Pemerintah secara resmi menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila melalui Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967 yang ditetapkan pada 27 September 1967.

Keppres tersebut menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila dan mengatur agar peringatannya dilaksanakan secara khidmat dan tertib oleh seluruh rakyat Indonesia.

Lubang Buaya dan Ingatan Sejarah Indonesia

Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya tidak hanya menjadi lokasi upacara kenegaraan. Kompleks tersebut juga menjadi salah satu tempat penting dalam pembelajaran sejarah Indonesia mengenai peristiwa 1965.

Di kawasan tersebut terdapat sejumlah lokasi dan bangunan yang berkaitan dengan peristiwa tersebut, termasuk sumur tempat ditemukannya jenazah para korban.

Namun, kajian mengenai peristiwa 1965 hingga kini juga terus berkembang. Sejumlah penelitian sejarah membahas berbagai perspektif mengenai aktor, latar belakang, serta rangkaian sebab yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.

Baca Juga :  HUT ke 79 RI, PLN Tingkatkan Keandalan Listrik melalui Pemeliharaan SKTT Depok Baru-Depok

Karena itu, pembacaan sejarah 1965 perlu ditempatkan berdasarkan sumber dan konteks masing-masing. Narasi resmi pemerintah pada masa lalu memiliki posisi tertentu dalam sejarah nasional, sementara kajian akademik juga terus mengembangkan penelitian terhadap berbagai sumber sejarah.

Pancasila sebagai Dasar Negara

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan mengenang peristiwa sejarah.

Momentum 1 Oktober juga menjadi pengingat mengenai kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia.

Pemerintah melalui peringatan tersebut mendorong agar nilai-nilai Pancasila tidak berhenti sebagai simbol dalam upacara, tetapi diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Bagi generasi muda, momentum tersebut juga menjadi kesempatan untuk memahami sejarah Indonesia secara lebih utuh dengan membaca berbagai sumber dan mempelajari konteks peristiwa secara kritis.

Enam puluh satu tahun setelah rangkaian peristiwa 1965, Lubang Buaya kembali menjadi saksi sebuah agenda kenegaraan.

Di tempat yang menyimpan salah satu bagian paling kelam sekaligus penting dalam perjalanan sejarah Indonesia itu, Presiden Prabowo memimpin peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026 sekaligus mengenang para korban yang menjadi bagian dari sejarah bangsa.***