. وَقَالَ سُفْيَانُ الثوْرِى : قَوْلُهُ : ( شَد مِئْزَرَهُ ) فِى هَذَا الْحَدِيثِ يَعْنِى : لَمْ يَقْرَبِ النسَاءَ ، وَفِى قَوْلِهِ : ( أَيْقَظَ أَهْلَهُ ) مِنَ الْفِقْهِ أَن لِلرجُلِ أَنْ يَحُض أَهْلَهُ عَلَى عَمَلِ النوَافِلِ ، وَيَأْمُرَهُمْ بِغَيْرِ الْفَرَائِضِ مِنْ أَعْمَالِ الْبِر ، وَيَحْمِلَهُمْ عَلَيْهَا .
Artinya:
“Sufyan Ats-Tsauri berkata maksud ‘mengencangkan kain atasnya’ dalam hadits di atas adalah Rasulullah SAW tidak melakukan hubungan badan dengan istrinya.
Dalam menghidupkan malam untuk memperoleh Lailatul Qadar, Rasulullah SAW menyibukkan diri dengan melakukan ibadah pada sebagian besar malam beliau.
Diceritakan Aisyah RA, yang menyatakan beliau tidak pernah melihat Rasulullah SAW beribadah semalam penuh sampai pagi.
أَيْ تَرَكَ النوْمَ الذِي هُوَ أَخُو الْمَوتِ وَتَعَبدَ مُعْظَمَ الليْلِ لَا كُلهُ بِقَرِينَةِ خَبَرِ عَائِشَةَ مَا عَلِمْتُهُ قَامَ لَيْلَةً حَتى الصبَاحِ
(وَأَحْيَا لَيْلَهُ)
Artinya:
“(dan menghidupkan malamnya) maksudnya adalah Rasulullah SAW tidak tidur di mana tidur adalah saudara kematian, dan beribadah pada sebagian besar malam bukan seluruhnya sebab ada riwayat dari Aisyah ra yang menyatakan: ‘Aku tidak pernah mengetahui Rasulullah SAW melakukan ibadah satu malam penuh sampai pagi hari,’”
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan ada tiga amaliyah yang dapat mempermudah kita untuk mendapatkan Lailatul Qadar pada sepuluh akhir Ramadhan pertama, yaitu:
1. Tidak melakukan hubungan suami istri untuk sementara saat masuk 10 malam terakhir di bulan Ramadhan.
2. Meningkatkan intensitas ibadah pada malam hari.
3. Meminta dan menganjurkan kepada keluarga untuk meningkatkan amaliyah dan amalan sunah selain yang fardhu.