Kenapa Anak-anak Cenderung Suka Main Game? Ini Jawaban Prof. Rhenald Kasali!
- account_circle Nugroho
- calendar_month Jumat, 5 Mei 2023
- print Cetak

Prof. Rhenal Kasali, PhD (dok.@Rhenal_Kasali)
Indo1.id- Akademisi Universitas Indonesia (UI) Prof. Rhenald Kasali ungkap, ia sering kali mendapatkan banyak keluhan dari orangtua yang anak nya tergila-gila bermain game.
Bahkan jika dibiarkan, sehari bisa lebih dari enam jam. Sementara itu, mengerjakan PR sekolah atau belajar, sulitnya minta ampun.
“Begitu pula ketika tiba waktunya untuk berangkat les, anak-anak kehilangan semangat. Mereka memang berangkat, tetapi gairahnya redup. Mereka pergi hanya untuk memenuhi keinginan orangtua,” tulisy di bukunya, Strawberry Generation.
Menurutnya, sebagian besar orangtua selalu mengaitkan main game dengan prestasi anak-anak di sekolah. Katanya, akibat terlalu sering main game, rapor anak-anaknya menjadi biasa-biasa saja,
“Mungkin bukan yang terjelek, tetapi jelas bukan yang terbaik. Bukan juara pertama,” jelasnya
Bukan hanya itu, orangtua juga sering kali cemas atas kesehatan mata dan obesitas. Benar, terlalu lama menatap layar komputer bisa berdampak negatif terhadap kesehatan mata dan gerakan anak.
“Oleh karena itu, banyak orangtua yang melarang anak-anaknya bermain game atau membatasinya hanya pada hari-hari libur dan jumlah jamnya dibatasi,” jelasnya.
Namun, lanjut dia, tidak sedikit orangtua yang tidak peduli. Mereka membiarkan anak-anaknya bermain game seharian.
“Alasannya, supaya anak-anak tidak mengganggu aktivitas orangtua yang mungkin sedang asyik menonton TV, membaca buku atau koran, ngobrol, atau bekerja,” ujarnya.
“Well, itulah kaitan dunia game dengan anak-anak dari sudut pandang orangtua. Namun, supaya fair, saya ajak Anda sebentar untuk melihat dunia game dari sisi pandang anak- anak,” jelas Prof. Rhenald Kasali.
Dari pengamatannya, game memberi anak-anak dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia nyata. Dunia game bagi anak-anak adalah sangat apresiatif.
Ia menjelaskan, ketika anak-anak bergabung dalam suatu game, mereka langsung disambut dengan meriah. “Selamat datang. Inilah pahlawan yang akan membebaskan bangsa kita dari cengkeraman makhluk jahat,” Begitu sambutannya kata Rhenald Kasali.
Lalu, lanjut dia, di game itu, anak-anak di-briefing dengan jelas tentang musuh-musuh yang bakal mereka hadapi. Siapa saja mereka, apa saja kehebatannya, dan sebagainya. Untuk menghadapi mereka, anak-anak juga dibekali berbagai “senjata” ampuh dan amunisi lainnya.
“Pada usia muda itu, mereka diperbolehkan memilih senjata atau perlengkapan lain yang sesuai dengan kebutuhan. Semuanya canggih dan sangat imajinatif,” katanya.
“Perjalanan petualang pun segera dimulai. Anak-anak kita mulai beraksi. Setiap berhasil menaklukkan lawan-lawan yang mengadang sepanjang perjalanan, mereka akan dielu-elukan. Bahkan, diapresiasi dengan tambahan senjata atau perlengkapan yang lebih canggih,” tambahnya.
Nah, ketika gagal, anak-anak juga tidak dihukum atau dicaci maki. Sebaliknya, malah dihidupkan kembali, disuruh mencoba lagi, coba lagi, dan coba lagi. Sampai berhasil.
Lalu, ketika anak-anak berhasil mengalahkan, apresiasinya sungguh luar biasa. Ada tepuk tangan yang gemuruh dengan pesta kembang api dalam game itu. Anak-anak betul-betul disanjung sebagai pahlawan.
“Mereka pun bisa bertemu para hero lain dalam pesta para juara yang mempertontonkan kehebatan mereka,” ujarnya.
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar