“Well, itulah kaitan dunia game dengan anak-anak dari sudut pandang orangtua. Namun, supaya fair, saya ajak Anda sebentar untuk melihat dunia game dari sisi pandang anak- anak,” jelas Prof. Rhenald Kasali.
Dari pengamatannya, game memberi anak-anak dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia nyata. Dunia game bagi anak-anak adalah sangat apresiatif.
Ia menjelaskan, ketika anak-anak bergabung dalam suatu game, mereka langsung disambut dengan meriah. “Selamat datang. Inilah pahlawan yang akan membebaskan bangsa kita dari cengkeraman makhluk jahat,” Begitu sambutannya kata Rhenald Kasali.
Lalu, lanjut dia, di game itu, anak-anak di-briefing dengan jelas tentang musuh-musuh yang bakal mereka hadapi. Siapa saja mereka, apa saja kehebatannya, dan sebagainya. Untuk menghadapi mereka, anak-anak juga dibekali berbagai “senjata” ampuh dan amunisi lainnya.
“Pada usia muda itu, mereka diperbolehkan memilih senjata atau perlengkapan lain yang sesuai dengan kebutuhan. Semuanya canggih dan sangat imajinatif,” katanya.
“Perjalanan petualang pun segera dimulai. Anak-anak kita mulai beraksi. Setiap berhasil menaklukkan lawan-lawan yang mengadang sepanjang perjalanan, mereka akan dielu-elukan. Bahkan, diapresiasi dengan tambahan senjata atau perlengkapan yang lebih canggih,” tambahnya.
Nah, ketika gagal, anak-anak juga tidak dihukum atau dicaci maki. Sebaliknya, malah dihidupkan kembali, disuruh mencoba lagi, coba lagi, dan coba lagi. Sampai berhasil.
Lalu, ketika anak-anak berhasil mengalahkan, apresiasinya sungguh luar biasa. Ada tepuk tangan yang gemuruh dengan pesta kembang api dalam game itu. Anak-anak betul-betul disanjung sebagai pahlawan.
“Mereka pun bisa bertemu para hero lain dalam pesta para juara yang mempertontonkan kehebatan mereka,” ujarnya.








