Wisata Edukasi Candi Cetho: Saksi Sejarah Kerajaan Majapahit di Lereng Gunung Lawu.
- account_circle Nugroho
- calendar_month Rabu, 7 Jun 2023
- print Cetak

Suasana pagi berkabut di Kawasan Candi Cetho Karanganyar Jawa Tengah. (Foto: instagram @vindybindy)
indo1.id – Candi Cetho adalah salah satu candi bercorak Hindu yang dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit (abad ke-15 Masehi).
Candi ini terletak di lereng barat Gunung Lawu, pada ketinggian 1496 meter di atas permukaan laut. Candi ini berada di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Candi Cetho memiliki arsitektur yang unik dan berbeda dengan candi-candi Hindu lainnya di Jawa. Candi ini memiliki struktur berteras-teras (punden berundak) yang menunjukkan adanya sinkretisme antara budaya asli Nusantara dengan Hinduisme.
Relief-relief yang menghiasi candi ini juga menampilkan bentuk tubuh manusia yang menyerupai wayang kulit, dengan wajah tampak samping tetapi tubuh tampak depan.
Candi Cetho pertama kali dilaporkan oleh sejarawan Belanda bernama Van de Vlies pada tahun 1842. Setelah itu, beberapa ahli lainnya juga melakukan penelitian mengenai candi ini, seperti A.J. Bernet Kempers, K.C. Crucq, W.F. Sutterheim, N.J. Krom dan Riboet Darmosoetopo.
Pada tahun 1928, Dinas Purbakala Hindia Belanda melakukan ekskavasi untuk kepentingan rekonstruksi dan penemuan objek terpendam.
Candi Cetho saat ini digunakan oleh masyarakat setempat dan juga peziarah yang beragama Hindu sebagai tempat pemujaan. Candi ini juga merupakan tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan asli Jawa atau Kejawen.
Candi ini menarik banyak wisatawan yang ingin menyaksikan keindahan arsitektur dan pemandangan alam di sekitarnya. Dari candi ini, pengunjung bisa melihat Gunung Merbabu, Gunung Lawu, Gunung Merapi, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, serta kota Surakarta dan Karanganyar di bawahnya.
Candi Cetho memiliki 14 teras yang memanjang dari barat ke timur, meskipun saat ini hanya tersisa 13 teras dan hanya sembilan teras yang dipugar. Setiap teras memiliki gapura sebagai pintu masuk dan beberapa bangunan candi kecil sebagai tempat pemujaan.
Di teras pertama, terdapat gapura berbentuk kubus dengan atap limas yang dihiasi relief bunga teratai.
Di teras kedua, terdapat gapura berbentuk segi delapan dengan atap limas bertingkat tiga yang dihiasi relief bunga melati.
Di teras ketiga, terdapat gapura berbentuk segi enam dengan atap limas bertingkat lima yang dihiasi relief bunga mawar.
Di teras keempat, terdapat gapura berbentuk segi empat dengan atap limas bertingkat tujuh yang dihiasi relief bunga kenanga.
Di teras kelima, terdapat gapura berbentuk segi tiga dengan atap limas bertingkat sembilan yang dihiasi relief bunga cempaka.
Di teras keenam, terdapat gapura berbentuk lingkaran dengan atap limas bertingkat sebelas yang dihiasi relief bunga kamboja.
Di teras ketujuh, terdapat gapura berbentuk setengah lingkaran dengan atap limas bertingkat tiga belas yang dihiasi relief bunga lotus.
Di teras kedelapan, terdapat gapura berbentuk setengah lingkaran dengan atap limas bertingkat lima belas yang dihiasi relief bunga padma.
Di teras kesembilan, terdapat gapura berbentuk setengah lingkaran dengan atap limas bertingkat tujuh belas yang dihiasi relief bunga kantil.
Di teras kesepuluh, terdapat gapura berbentuk setengah lingkaran dengan atap limas bertingkat sembilan belas yang dihiasi relief bunga melati putih.
Di teras kesebelas, terdapat gapura berbentuk setengah lingkaran dengan atap limas bertingkat dua puluh satu yang dihiasi relief bunga melati merah.
Di teras kedua belas, terdapat gapura berbentuk setengah lingkaran dengan atap limas bertingkat dua puluh tiga yang dihiasi relief bunga melati kuning.
Di teras ketiga belas, terdapat gapura berbentuk setengah lingkaran dengan atap limas bertingkat dua puluh lima yang dihiasi relief bunga melati biru.
Di teras keempat belas, terdapat gapura berbentuk setengah lingkaran dengan atap limas bertingkat dua puluh tujuh yang dihiasi relief bunga melati ungu.
Setiap gapura memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan tingkatan spiritual dan kosmologi Hindu.
Gapura pertama melambangkan alam manusia (bhurloka), gapura kedua melambangkan alam dewa (bhuvarloka), gapura ketiga melambangkan alam dewa tertinggi (svarloka), dan seterusnya hingga gapura keempat belas melambangkan alam tertinggi (paramaloka).
Setiap bunga yang menghiasi gapura juga memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan sifat-sifat dewa dan dewi Hindu. Bunga teratai melambangkan kemurnian dan kesucian, bunga melati melambangkan kesetiaan dan keharmonisan, bunga mawar melambangkan cinta dan kasih sayang, dan seterusnya hingga bunga melati ungu melambangkan kebijaksanaan dan pencerahan.
Candi Cetho merupakan candi yang menyimpan banyak cerita sejarah dan kebudayaan yang menarik untuk diketahui. Candi ini juga merupakan candi yang memiliki keindahan arsitektur dan pemandangan alam yang menakjubkan. Candi ini layak menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang wajib dikunjungi.
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar