Indo1.id – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengumumkan bahwa Ketua Umum partai tersebut, Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin, akan dipingit menjelang Pemilu 2024.
Keputusan ini diambil setelah rapat pleno yang diadakan oleh DPP PKB.
Yusuf Chudlori, Ketua DPP PKB, mengumumkan keputusan tersebut pada Senin (19/6) di kantor DPP PKB.
Yusuf menyampaikan bahwa terdapat tiga hal yang menjadi fokus pembahasan dalam rapat pleno yang berlangsung selama sekitar tiga jam.
Ketiga hal tersebut berkaitan dengan persiapan PKB menjelang Pemilu 2024.
“Tadi sempat ada diskusi yang cukup memanas mengenai Pilpres 2024.
Rapat pleno DPP akhirnya memutuskan bahwa Gus Muhaimin Iskandar mulai hari ini akan dipingit, dalam bahasa Jawa, artinya dia tidak boleh bicara tentang Pilpres.
Cukup untuk memberikan wewenang kepada pengurus DPP,” ujar Yusuf kepada para wartawan.
Yusuf juga menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil karena Cak Imin dianggap seperti seorang pengantin.
Menurut tradisi Jawa, pengantin harus mulai masuk ke dalam kamar, mempersiapkan diri, dan siap-siap.
Oleh karena itu, atas permintaan dari para kiai dan Dewan Syuro DPP PKB, Cak Imin diminta untuk tidak bicara mengenai Pilpres.
Cak Imin sendiri mengakui bahwa dirinya sering kali bicara tanpa berpikir terlebih dahulu, dan itulah yang membuatnya dipingit oleh PKB.
“Ya, supaya saya tidak bicara terlalu banyak. Karena biasanya saya bicara tanpa berpikir terlebih dahulu.
Saya sudah ditegur karena kebiasaan bicara tanpa berpikir terlebih dahulu,” ungkap Cak Imin kepada wartawan di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta pada Sabtu (8/7/2023).
Cak Imin sendiri tidak mengetahui sampai kapan dirinya akan dipingit.
Dia mengatakan bahwa selama masa tersebut, dia tidak diperbolehkan untuk membicarakan Pilpres.
“Tentang berapa lama saya akan dipingit, saya tidak tahu.
Tetapi, kita akan menunggu keputusan dari Dewan Syuro,” tuturnya.
Ketika ditanya apakah keputusan ini terkait dengan kesepakatan calon wakil presiden (cawapres) dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, Cak Imin enggan menjawab.
“Saya tidak tahu, saya tidak tahu,” jawabnya sambil tersenyum.








