Mengenang Sepak Terjang Mendiang Raja Fahd di Pusaran Konflik Timur Tengah
- account_circle Nugroho
- calendar_month Rabu, 2 Agt 2023
- print Cetak

King Fadh, Raja Arab Saudi. (Foto: Britannica)
Indo1.id – Raja Fahd bin Abdul Aziz Al Saud adalah raja Arab Saudi yang memerintah dari tahun 1982 hingga 2005.
Selama masa kepemimpinannya, ia menghadapi berbagai tantangan dan konflik di kawasan Timur Tengah, baik yang berkaitan dengan Israel-Palestina, Iran-Irak, maupun Afghanistan.
Bagaimana sepak terjangnya?
Raja Fahd naik tahta menggantikan Raja Khalid yang meninggal pada tahun 1982.
Sebelumnya, ia sudah menjabat sebagai wakil perdana menteri dan menteri dalam negeri. Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam gerakan modernisasi Arab Saudi, terutama di bidang ekonomi, pendidikan, dan infrastruktur.
Di bidang politik dan diplomasi, Raja Fahd juga melahirkan berbagai terobosan dan inovasi baru.
Ia menjadi raja pertama yang menjalin hubungan dekat dengan Amerika Serikat, meskipun tetap mendukung Palestina secara penuh dan memusuhi Israel yang merupakan sekutu Amerika Serikat.
Raja Fahd juga menjadi raja pertama yang mengeluarkan Deklarasi Fez pada tahun 1982, yaitu sebuah rencana perdamaian komprehensif untuk menyelesaikan konflik Arab-Israel.
Rencana ini mencakup pengakuan Israel sebagai negara berdaulat dalam batas-batas tahun 1967, penarikan pasukan Israel dari wilayah-wilayah Arab yang diduduki sejak tahun 1967, pembentukan negara Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, dan penyelesaian masalah pengungsi Palestina.
Namun, rencana ini ditolak oleh Israel dan tidak mendapat dukungan penuh dari negara-negara Arab lainnya.
Raja Fahd kemudian mengubah posisinya menjadi lebih moderat dan mendukung inisiatif perdamaian lainnya, seperti Perjanjian Camp David antara Mesir dan Israel pada tahun 1978 dan Inisiatif Damai Arab pada tahun 2002.
Selain konflik Arab-Israel, Raja Fahd juga menghadapi tantangan lain di kawasan Timur Tengah. Pada tahun 1979, Revolusi Iran menggulingkan Shah Iran yang merupakan sekutu Arab Saudi dan membawa kekuasaan Ayatollah Khomeini yang beraliran Syiah.
Revolusi ini menimbulkan ketegangan antara Arab Saudi dan Iran yang berujung pada perang proxy di beberapa negara seperti Irak, Lebanon, dan Yaman.
Pada tahun 1980, Irak yang dipimpin oleh Saddam Hussein menginvasi Iran dengan dukungan Arab Saudi dan Amerika Serikat.
Perang ini berlangsung selama delapan tahun dan menelan korban jiwa jutaan orang.
Raja Fahd berperan aktif dalam memberikan bantuan militer dan finansial kepada Irak untuk mengimbangi pengaruh Iran.
Namun, hubungan Arab Saudi dan Irak memburuk setelah Irak menginvasi Kuwait pada tahun 1990.
Raja Fahd menentang invasi ini dan meminta bantuan Amerika Serikat untuk membebaskan Kuwait.
Ia juga mengizinkan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat untuk menggunakan wilayah Arab Saudi sebagai pangkalan militer.
Keputusan ini menuai kontroversi di dalam negeri dan di dunia Islam. Banyak yang mengecam Raja Fahd karena mengundang pasukan asing ke tanah suci Islam.
Salah satu kritikus terkenal adalah Osama bin Laden, pemimpin kelompok teroris Al-Qaeda yang berasal dari Arab Saudi.
Pada tahun 1991, Perang Teluk berhasil membebaskan Kuwait dari cengkeraman Irak.
Namun, pasukan koalisi tidak melanjutkan serangan ke Baghdad untuk menggulingkan Saddam Hussein.
Hal ini membuat Raja Fahd kecewa dan merasa dikhianati oleh Amerika Serikat.
Pada tahun 1996, sebuah bom meledak di kompleks perumahan militer Amerika Serikat di Khobar, Arab Saudi, yang menewaskan 19 tentara Amerika dan melukai lebih dari 400 orang.
Serangan ini diduga dilakukan oleh kelompok Hizbullah yang didukung oleh Iran.
Raja Fahd mengutuk serangan ini dan berjanji untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk menangkap pelakunya.
Pada tahun 2001, serangan 11 September mengejutkan dunia. Serangan ini dilakukan oleh kelompok Al-Qaeda yang dipimpin oleh Osama bin Laden.
Dari 19 pembajak pesawat yang terlibat dalam serangan ini, 15 orang berasal dari Arab Saudi.
Hal ini menimbulkan kecurigaan dan kritik terhadap Arab Saudi sebagai sekutu Amerika Serikat.
Raja Fahd mengutuk serangan ini dan menyatakan solidaritasnya dengan Amerika Serikat.
Ia juga mengambil langkah-langkah untuk memerangi terorisme dan mereformasi sistem politik dan sosial di Arab Saudi.
Ia memberikan hak suara kepada perempuan, membentuk dewan konsultatif, dan mengizinkan partisipasi masyarakat sipil dalam pemerintahan.
Namun, Raja Fahd juga menghadapi tantangan kesehatan yang serius.
Pada tahun 1995, ia mengalami stroke yang melemahkan kemampuannya untuk memimpin.
Ia kemudian menyerahkan sebagian besar kekuasaannya kepada saudara tirinya, Pangeran Abdullah bin Abdul Aziz Al Saud, yang menjadi wali raja.
Raja Fahd meninggal dunia pada tanggal 1 Agustus 2005 di usia 84 tahun.
Ia digantikan oleh Pangeran Abdullah sebagai raja Arab Saudi. Raja Fahd dianggap sebagai salah satu pemimpin paling berpengaruh dan berjasa dalam sejarah Arab Saudi dan Timur Tengah.
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar