Mitos dan Misteri Batu Al Naslaa, Formasi Batu yang Terbelah Sempurna di Arab Saudi

  • Bagikan
Penampakan Batu al-naslaa yang berda di Arab Saudi. (Foto: X @historyinmemes)

Indo1.id – Di tengah padang pasir Tayma, Arab Saudi, terdapat sebuah formasi batu yang menarik perhatian banyak orang.

Formasi batu itu bernama Al Naslaa, yang berarti “pemisahan” dalam bahasa Arab.

Al Naslaa adalah sepasang batu pasir berukuran besar yang dialasi dua batu berukuran lebih kecil.

Dua batu ini dipisahkan celah berbentuk garis lurus, seolah-olah dulunya kedua objek itu adalah satu batuan utuh yang kemudian dibelah.

Baca Juga :  Kayu Galih Asem: Mitos dan Keyakinan dalam Dunia Kepemimpinan

Poin perhatian banyak orang saat melihat batu ini adalah belahannya begitu sempurna seperti hasil kerja laser.

Celah di tengah Al Naslaa terlihat begitu datar, tak ada tonjolan-tonjolan seperti batu pada umumnya.

Bahkan, formasi Al Naslaa tersebut membuat bingung banyak ahli geologi dan sejarawan sejak batu itu ditemukan pertama kali.

Bagaimana mungkin batu ini bisa terbelah dengan presisi yang luar biasa? Apakah ada campur tangan manusia atau makhluk lain di balik fenomena ini?

Baca Juga :  Mitos Pulau Arnavat, Tempat Mandi Penyembuhan di Demak

Ataukah ini hanya kebetulan alam semata? Berbagai teori dan spekulasi pun bermunculan untuk menjelaskan misteri Al Naslaa.

Teori Ilmiah

Salah satu teori ilmiah yang mencoba menjelaskan fenomena Al Naslaa adalah teori gerakan tektonik.

Menurut teori ini, kerak bumi hanya bergeser sedikit dan cukup untuk menyebabkan Al Naslaa retak menjadi dua.

Namun, teori ini masih dipertanyakan karena tidak ada bukti adanya aktivitas tektonik di daerah tersebut.

Baca Juga :  Mitos-mitos tentang Natal yang Masih Dipercaya Hingga Saat Ini!

Teori ilmiah lainnya adalah teori patahan. Menurut teori ini, celah yang halus di tengah batuan tersebut disebabkan oleh faktor alamiah, seperti gerakan air atau angin.

Dari teori ini, material di sekitar patahan biasanya cenderung lebih lemah lalu lebih mudah terkikis oleh hujan.

Namun, teori ini juga masih diragukan karena tidak ada jejak erosi yang signifikan di sekitar formasi batu.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan