Kenali Ring of Fire, Penyebab Indonesia Sering Diguncang Gempa

  • Bagikan
Cicin Api Pasifik atau Pacific ring of fire. (Foto: britannica)

Peleburan ini akan menghasilkan magma yang naik ke permukaan dan membentuk gunung berapi.

Selain itu, gesekan antara lempeng-lempeng juga akan menimbulkan tekanan dan getaran yang menyebabkan gempa bumi.

Bagaimana Ring of Fire Mempengaruhi Indonesia?

Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik.

Akibatnya, Indonesia memiliki lebih dari 150 gunung berapi aktif dan ribuan gempa bumi setiap tahunnya.

Beberapa peristiwa vulkanik dan gempa bumi besar yang pernah terjadi di Indonesia akibat Ring of Fire antara lain adalah letusan Gunung Tambora (1815) yang menyebabkan tahun tanpa musim panas di dunia.

Baca Juga :  Cek Fakta Industri Tembakau di Indonesia: Konflik Batin Diantara Cinta dan Benci!

Letusan Gunung Krakatau (1883) yang menghancurkan pulau dan menimbulkan tsunami dahsyat

Gempa bumi Aceh (2004) yang memicu tsunami besar di Samudra Hindia, gempa bumi Yogyakarta (2006) yang merusak candi-candi bersejarah.

Letusan Gunung Merapi (2010) yang menewaskan ratusan orang, gempa bumi Lombok (2018) yang merobohkan ribuan bangunan, dan gempa bumi Sulawesi (2018) yang menyebabkan likuifaksi tanah.

Baca Juga :  Ali Wongso : SOKSI Dukung Penuh Jokowi dan Gibran Berada di Partai Golkar

Bagaimana Cara Mengurangi Risiko Bencana Akibat Ring of Fire?

Meskipun tidak dapat menghindari sepenuhnya bencana alam akibat Ring of Fire, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kerusakan dan korban jiwa.

Beberapa langkah tersebut antara lain adalah:

Meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dengan melakukan sosialisasi dan simulasi tentang cara bertindak saat terjadi gempa bumi atau letusan gunung berapi.

Baca Juga :  Inilah Doa dan Harapan Jessica Wongso saat Ultah yang ke 35 Tahun 'Aku Ingin Cepat Bebas'

– Membangun infrastruktur yang tahan gempa dan sesuai dengan standar keselamatan.

– Membuat peta zonasi bencana dan rencana evakuasi yang jelas dan mudah diakses oleh masyarakat.

– Meningkatkan kapasitas lembaga penanggulangan bencana dengan menyediakan peralatan dan sumber daya yang memadai.

– Meningkatkan kerjasama antara pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta dan mitra internasional dalam hal mitigasi, respons dan pemulihan bencana.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan