Raja Brawijaya V tidak mampu mempertahankan kerajaannya dan akhirnya melarikan diri ke arah timur bersama beberapa pengikutnya.
Salah satu tempat persembunyiannya adalah di Gunung Kidul, tepatnya di Desa Kanigoro.
Di sana, ia mendirikan sebuah pura untuk bersembahyang kepada Dewa Wisnu.
Namun, Raja Brawijaya V tidak merasa tenang di tempat itu karena merasa masih terikat oleh dunia.
Ia pun memutuskan untuk melakukan upacara muksa atau melepaskan diri dari dunia dengan cara bertransformasi menjadi landak laut.
Ia memilih pantai Ngobaran sebagai tempat upacara muksa tersebut.
Upacara muksa dilakukan dengan cara membakar diri sendiri di atas tumpukan kayu kering di pinggir pantai.
Setelah api menyala, tubuh Raja Brawijaya V berubah menjadi landak laut dan melompat ke laut. Ia pun menghilang bersama ombak dan tidak pernah terlihat lagi.
Sejak saat itu, pantai Ngobaran menjadi tempat suci bagi masyarakat sekitar.
Mereka percaya bahwa roh Raja Brawijaya V masih berada di sana dan memberikan berkah bagi mereka.
Mereka pun rutin melakukan ritual untuk menghormati raja terakhir Majapahit tersebut.