Ketika bertemu dengan Muhammad, Syaima kembali mengaku bahwa ia adalah saudara sepersusuannya.
Namun, Muhammad juga tidak langsung percaya karena sudah lebih dari 50 tahun ia tidak bertemu dengan Syaima. Ia pun meminta bukti dari Syaima.
Syaima lalu mengingatkan Muhammad tentang kenangan masa kecil mereka.
Ia berkata, “Ingatkah kau, Nabi Allah, ketika aku memukul pangkal pahamu, kita bermain di dekat tenda, tenda keluarga kita Bani Sa’ad. Ketika kau naik ke punggungku dan menggigitku dengan gigitan kasih sayang?”
Muhammad pun tersentuh mendengar perkataan Syaima. Ia pun mengenali saudaranya itu dan memeluknya dengan erat.
Ia meminta maaf atas perlakuan kasar yang diterima oleh Syaima dan menawarkan untuk membebaskannya.
Ia juga memberikan pilihan kepada Syaima untuk tinggal bersamanya di Madinah atau kembali ke kampung halamannya.
Syaima memilih untuk kembali ke Bani Sa’ad karena ia sudah terbiasa hidup di sana.
Muhammad pun menghormati keputusan Syaima dan memberinya hadiah berupa pakaian, perhiasan, unta, dan uang.
Ia juga memberikan surat perlindungan kepada Syaima agar tidak diganggu oleh siapa pun.
Muhammad dan Syaima pun berpisah dengan saling mendoakan. Mereka tidak pernah bertemu lagi hingga akhir hayat mereka.
Namun, mereka tetap menyimpan rasa cinta dan hormat sebagai saudara sepersusuan yang pernah bersama-sama dalam suka dan duka.








