Indo1.id – Trenggalek adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang terkenal dengan julukan “Kota Gaplek”. Gaplek adalah makanan khas Trenggalek yang terbuat dari singkong yang dikeringkan dan digiling. Namun, tahukah Anda bagaimana asal usul nama Trenggalek itu sendiri?
Menurut beberapa sumber, nama Trenggalek berasal dari kata “teranging galih” yang berarti terangnya hati. Kata ini diberikan oleh Ki Ageng Sinawang, seorang tokoh penting dalam sejarah Trenggalek.
Ki Ageng Sinawang adalah pimpinan sebuah padepokan yang bernama Sinawang, yang terletak di wilayah barat Bumi Pardikan Sendang Kamulyan.
Ki Ageng Sinawang memiliki seorang istri bernama Raden Ayu Saraswati, yang merupakan putri satu-satunya dari Raja Majapahit.
Raden Ayu Saraswati menderita penyakit aneh yang membuat tubuhnya mengeluarkan bau amis yang menyengat. Raja Majapahit sudah mencoba berbagai cara untuk menyembuhkan putrinya, namun tidak ada yang berhasil.
Akhirnya, atas saran Patih, Raja Majapahit memutuskan untuk mengirim putrinya ke padepokan Sinawang, dengan harapan bisa disembuhkan oleh Ki Ageng Sinawang.
Sesampainya di sana, Raden Ayu Saraswati disambut dengan baik oleh Ki Ageng Sinawang dan murid-muridnya. Salah satu murid Ki Ageng Sinawang yang paling setia adalah Menak Sopal.
Menak Sopal adalah seorang bayi laki-laki yang ditemukan oleh Ki Ageng Sinawang di pinggir sungai Bagong. Bayi itu dibawa ke padepokan dan dirawat oleh Ki Ageng Sinawang dan Raden Ayu Saraswati.
Menak Sopal tumbuh menjadi pemuda yang tampan, sakti, dan disukai oleh masyarakat sekitar.
Suatu hari, terjadi kekeringan di wilayah padepokan Sinawang. Menak Sopal bersama pemuda lainnya berusaha mencari sumber air untuk mengatasi masalah tersebut.
Mereka menemukan bahwa sungai Bagong mengalir deras dan melimpah. Maka, mereka memutuskan untuk membendung sungai itu agar bisa menyimpan air untuk keperluan padepokan.
Namun, bendungan yang mereka buat ternyata rusak karena digerogoti oleh seekor buaya putih. Menak Sopal pun bertekad untuk menangkap buaya itu dan meminta pertanggungjawabannya.
Setelah berhasil menemukan buaya itu, Menak Sopal menanyakan alasan buaya itu merusak bendungan mereka.
Buaya itu menjawab bahwa ia merusak bendungan karena ia tidak suka dengan air tawar. Ia mengatakan bahwa ia hanya mau berhenti merusak bendungan jika Menak Sopal memberinya kepala gajah putih sebagai ganti rugi.
Menak Sopal pun bingung karena ia tidak tahu di mana bisa mendapatkan gajah putih.
Setelah mencari-cari informasi, Menak Sopal mengetahui bahwa ada seorang wanita tua bernama Mbok Randa yang memiliki gajah putih di Desa Krandon.
Mbok Randa adalah seorang janda kaya raya yang sangat sayang kepada gajah putihnya. Menak Sopal pun pergi ke Desa Krandon untuk meminjam gajah putih Mbok Randa.
Menak Sopal meminta izin kepada Mbok Randa untuk meminjam gajah putihnya selama tiga hari dengan alasan ingin menggunakannya untuk upacara adat.
Mbok Randa awalnya ragu, namun akhirnya setuju dengan syarat Menak Sopal harus bertanggung jawab jika ada apa-apa dengan gajah putihnya.
Menak Sopal pun membawa gajah putih itu ke padepokan Sinawang. Di sana, ia menyembelih gajah putih itu dan memotong kepalanya.
Ia kemudian membawa kepala gajah putih itu ke sungai Bagong dan memberikannya kepada buaya putih. Buaya putih pun senang dan berjanji tidak akan merusak bendungan lagi.
Sementara itu, Mbok Randa menunggu kepulangan gajah putihnya. Namun, setelah tiga hari berlalu, gajah putih itu tidak kunjung kembali.
Mbok Randa pun merasa khawatir dan marah. Ia pergi ke padepokan Sinawang untuk mencari Menak Sopal dan gajah putihnya.
Di padepokan Sinawang, Mbok Randa bertemu dengan Menak Sopal dan menanyakan keberadaan gajah putihnya.
Menak Sopal pun mengaku bahwa ia telah menyembelih gajah putih itu untuk diberikan kepada buaya putih sebagai tebusan agar bendungan tidak rusak lagi. Mbok Randa tidak percaya dan mengamuk kepada Menak Sopal.
Menak Sopal pun berlari meninggalkan Mbok Randa yang terus mengejarnya. Mbok Randa kemudian bertemu dengan Ki Ageng Sinawang dan menceritakan apa yang terjadi.
Ki Ageng Sinawang pun memberikan penjelasan yang sama dengan Menak Sopal. Ia juga menjelaskan bahwa apa yang dilakukan Menak Sopal adalah untuk kepentingan bersama masyarakat padepokan.
Setelah mendengar penjelasan Ki Ageng Sinawang, Mbok Randa pun merasa lega dan ikhlas. Ia menyadari bahwa gajah putihnya telah menjadi korban untuk kesejahteraan orang banyak.
Ia pun memaafkan Menak Sopal dan mengucapkan terima kasih kepada Ki Ageng Sinawang.
Ki Ageng Sinawang kemudian berkata bahwa jika suatu saat nanti padepokan Sinawang menjadi ramai dan berkembang menjadi sebuah kota, maka harus diberi nama “Teranging Galih”, yang berarti terangnya hati Mbok Randa yang telah rela mengorbankan gajah putihnya.
Kata “Teranging Galih” kemudian berubah menjadi “Trenggalek” seiring dengan perkembangan zaman.
Itulah mitos dan asal usul kota Trenggalek yang berasal dari kisah cinta antara Ki Ageng Sinawang dan Raden Ayu Saraswati, serta kisah heroik Menak Sopal yang berhadapan dengan buaya putih.
Kisah ini menunjukkan nilai-nilai luhur seperti pengorbanan, kesetiaan, dan keikhlasan yang patut diteladani oleh masyarakat Trenggalek.








