Hingga saat ini, tidak ada bukti konkret yang menunjukkan bahwa teknologi perjalanan waktu benar-benar ada atau bisa dilakukan oleh manusia.
Selain itu, banyak hal yang dikatakan oleh Jayabaya juga bertentangan dengan fakta-fakta sejarah atau ilmiah yang sudah diketahui.
Menurut ahli geologi, Gunung Slamet terbentuk akibat subduksi lempeng Indo-Australia pada lempeng Eurasia di selatan Pulau Jawa.
Retakan pada lempeng membuka jalur lava ke permukaan. Proses ini tidak mungkin membuat Pulau Jawa terbelah dua, karena lempeng Eurasia masih utuh dan tidak ada retakan besar di tengah-tengah pulau.
Selain itu, letusan Gunung Slamet juga tidak mungkin membuat parit atau selat baru, karena jarak antara pantai utara dan selatan Jawa masih sangat jauh dan membutuhkan energi yang sangat besar untuk menghancurkannya.
Selain itu, catatan letusan Gunung Slamet juga menunjukkan bahwa gunung ini tidak pernah meletus besar dan membahayakan warga sekitar.
Gunung ini aktif dan sering mengalami erupsi skala kecil. Aktivitas terakhir adalah pada bulan Mei 2009 dan sampai Juni masih terus mengeluarkan lava pijar.
Sebelumnya ia tercatat meletus pada tahun 1999. Tidak ada laporan korban jiwa atau kerusakan akibat letusan Gunung Slamet.
Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa mitos dan ramalan Jayabaya tentang pulau Jawa yang akan terbelah jika Gunung Slamet meletus adalah sebuah fiksi belaka yang dibuat untuk menarik perhatian atau mengelabui orang-orang.
Tidak ada bukti ilmiah atau logis yang mendukungnya dan banyak hal yang dikatakannya juga bertentangan dengan fakta-fakta yang sudah diketahui.
Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak mudah percaya dengan mitos dan ramalan seperti ini dan tetap menggunakan akal sehat dan pengetahuan kita untuk membedakan antara fakta dan fiksi.








