Kisah Mengharukan Nabi Muhammad dan Syaima, Saudara Sepersusuan yang Bertemu dalam Perang
- account_circle Nugroho
- calendar_month Selasa, 26 Sep 2023
- print Cetak

Rasulullah SAW ternyata mempunyai saudara sepersusuan yaitu Syaima binti al-Harits. (Foto: NU Online)
Indo1.id – Muhammad dan Syaima adalah saudara sepersusuan yang memiliki hubungan dekat saat kecil.
Mereka berdua diasuh oleh Halimah as-Sa’diyah, seorang wanita dari suku Bani Sa’ad yang menjadi ibu susu Muhammad.
Syaima adalah anak tertua Halimah yang sering bermain dan menjaga Muhammad. Mereka berbagi kasih sayang dan kenangan manis selama lima tahun.
Namun, setelah Muhammad kembali ke ibu kandungnya, Aminah, mereka berpisah dan tidak pernah bertemu lagi.
Syaima tetap tinggal di kampung Bani Sa’ad, sementara Muhammad tumbuh menjadi nabi dan rasul Allah yang membawa risalah Islam.
Mereka hidup dalam dunia yang berbeda, hingga suatu ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam sebuah peristiwa yang mengharukan.
Peristiwa itu terjadi pada tahun ke-8 Hijriah, ketika pasukan Muslim menghadapi kaum Hawazin dan Tsaqif dalam perang Hunain.
Dalam perang itu, pasukan Muslim berhasil mengalahkan musuh dan mengambil harta benda dan tawanan mereka.
Di antara tawanan itu, ada Syaima, saudara sepersusuan Muhammad, yang ikut ditawan karena ia termasuk keluarga Bujad dari Bani Sa’ad, salah satu pemimpin kaum Hawazin.
Syaima diperlakukan dengan kasar oleh pasukan Muslim yang tidak tahu siapa dirinya.
Ia merintih kesakitan dan mencoba memberitahu bahwa ia adalah saudara sepersusuan Muhammad.
Namun, tidak ada yang percaya padanya. Ia pun dibawa untuk menghadap Muhammad bersama tawanan lainnya.
Ketika bertemu dengan Muhammad, Syaima kembali mengaku bahwa ia adalah saudara sepersusuannya.
Namun, Muhammad juga tidak langsung percaya karena sudah lebih dari 50 tahun ia tidak bertemu dengan Syaima. Ia pun meminta bukti dari Syaima.
Syaima lalu mengingatkan Muhammad tentang kenangan masa kecil mereka.
Ia berkata, “Ingatkah kau, Nabi Allah, ketika aku memukul pangkal pahamu, kita bermain di dekat tenda, tenda keluarga kita Bani Sa’ad. Ketika kau naik ke punggungku dan menggigitku dengan gigitan kasih sayang?”
Muhammad pun tersentuh mendengar perkataan Syaima. Ia pun mengenali saudaranya itu dan memeluknya dengan erat.
Ia meminta maaf atas perlakuan kasar yang diterima oleh Syaima dan menawarkan untuk membebaskannya.
Ia juga memberikan pilihan kepada Syaima untuk tinggal bersamanya di Madinah atau kembali ke kampung halamannya.
Syaima memilih untuk kembali ke Bani Sa’ad karena ia sudah terbiasa hidup di sana.
Muhammad pun menghormati keputusan Syaima dan memberinya hadiah berupa pakaian, perhiasan, unta, dan uang.
Ia juga memberikan surat perlindungan kepada Syaima agar tidak diganggu oleh siapa pun.
Muhammad dan Syaima pun berpisah dengan saling mendoakan. Mereka tidak pernah bertemu lagi hingga akhir hayat mereka.
Namun, mereka tetap menyimpan rasa cinta dan hormat sebagai saudara sepersusuan yang pernah bersama-sama dalam suka dan duka.
- Penulis: Nugroho


Saat ini belum ada komentar