Lezatnya Perasan Rumput Lambung Sapi, Khas Karo, Pernah Coba?
- account_circle M Effendi
- calendar_month Selasa, 21 Feb 2023
- print Cetak

๐๐ณ๐ช๐ต๐ฆ๐ด ๐๐ถ๐ญ๐ช๐ฏ๐ฆ๐ณ ๐๐ฌ๐ด๐ต๐ณ๐ฆ๐ฎ ๐๐ฉ๐ข๐ด ๐๐ถ๐ฎ๐ข๐ต๐ฆ๐ณ๐ข ๐๐ต๐ข๐ณ๐ข.
indo1.id II Kuliner unik khas Suku Karo bernama Trites. Trites ini juga sering disebut sebagai ‘Pagit-pagit’ yang berarti pahit. Makanan ini serupa soto, bahan utamanya rumput yang diambil dari isi perut besar sapi, kerbau atau kambing.
Pasti orang beranggapan makanan ini berasal dari kotoran sapi. Tetapi anggapan itu keliru. Karena rumput yang diambil dari perut besar itu masih segar. Karena ketika kerbau, sapi atau kambing memakan rumput maka rumput yang baru dikunyah itu disimpan dalam perut besar.
Bukan rumput yang dari lambung itu yang kita makan, melainkan air perasannya. Rumput itu diperas, kemudian disaring berulang kali dengan kain tipis. Dengan begitu tidak ada serat rumput yang tercampur.
Proses pemasakanya pun berlangsung selama 2-3 jam atau hingga mendidih dan mengeluarkan buih. Buang buihnya, setelah itu masukan bawang putih, bawang merah, dan cabai yang sudah halus biarkan beberapa saat. Kemudian dicampur dengan cincangan daging sapi atau usus sapi.
Dulu orang mencampurnya dengan susu segar, tetapi kini hal sudah jarang dilakukan. Sebagai gantinya orang Karo menggunakan santan. Selain praktis juga lebih hemat. Sepintas ada kemiripan rasa trites dengan kari kambing India.
Supaya menghasilkan cita rasa yang khas, hingga sekarang dalam pengolahan trites masih menggunakan kayu bakar yang dibentuk dengan tungkuan api. Tak heran, proses pembuatannya membutuhkan waktu 5 jam lebih.
Di masyarakat Karo, dulunya trites hanya disajikan untuk orang-orang tertentu saja. Tidak semua orang sanggup memasaknya. Hal itu karena bahan dasarnya yang sulit didapat dan berbiaya mahal. Paling tidak untuk memasak trites seseorang harus menyembelih seekor sapi atau lembu.
Tidak heran bila trites disebut-sebut sebagai makanan para raja. Masyarakat biasa baru memiliki kesempatan mencicipi trites saat-saat tertentu, misalnya ketika pesta kerja tahun (selesai musim tanam) berlangsung.
Saat itu berbagai kuliner tradisi Karo dihidangkan. Termasuk cimpa, kue manis khas Suku Karo yang sudah sangat familiar. Saat ini, karena trites sudah semakin jarang dimasak, banyak generasi muda Karo yang sama sekali belum pernah mengonsumsi trites.
Resi Tarigan, salah seorang dosen muda di universitas Medan Area (UMA), yang mengaku belum tentu sekali dalam setahun lidahnya bisa mencicipi trites.
“Paling kalau tahun baru, itu pun kalau keluarga besar kumpul. Kalau tidak terpaksa harus menunggu pesta kerja tahun berlangsung,” katanya.
Debagai salah satu warisan leluhur Karo, trites atau pagit-pagit ini layak untuk dipopulerkan dan dilestarikan. Siapa yang tahu pada masa depan, kuliner satu ini bakal mengikuti jejak Dayok Nibinatur yang ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda.
Karena makanan ini tidak hanya diburu oleh orang Karo, namun juga komunitas suku Jawa dan Batak. Mereka mengaku sangat suka dengan kuliner yang satu ini.
- Penulis: M Effendi


Saat ini belum ada komentar