Setelah melalui beberapa perubahan dan perdebatan, Pancasila akhirnya disahkan sebagai dasar negara Indonesia dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18 Agustus 1945. Pancasila kemudian dimuat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusi negara.
Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi Soekarno dalam memimpin Indonesia. Ia menerapkan Pancasila dalam berbagai kebijakan dan programnya, seperti:
• Membentuk kabinet-kabinet koalisi yang mencerminkan keragaman politik dan kepentingan rakyat.
• Melakukan konfrontasi dengan Belanda untuk merebut Irian Barat sebagai bagian dari persatuan Indonesia.
• Membangun berbagai proyek pembangunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi rakyat.
• Membentuk Konferensi Asia Afrika yang menunjukkan solidaritas antara bangsa-bangsa yang baru merdeka dari penjajahan.
• Mencetuskan konsep Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis) yang merupakan bentuk rekonsiliasi antara tiga aliran politik utama di Indonesia.
• Menggagas Ganyang Malaysia sebagai bentuk perlawanan terhadap neo-kolonialisme dan imperialisme.
• Mendirikan Gerakan Non-Blok yang menolak ikut campur dalam perang dingin antara blok Barat dan Timur.
• Mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang mengembalikan UUD 1945 sebagai konstitusi negara dan membentuk Demokrasi Terpimpin sebagai sistem pemerintahan baru.
• Menyampaikan pidato Trikora (Tritura) pada tanggal 19 Desember 1962 yang menuntut pembubaran PKI, penurunan harga, dan pembentukan kabinet baru.
Namun, akhir hayat Soekarno jauh dari hiruk pikuk politik dan kekuasaan. Sejak peristiwa G30S PKI pada tahun 1965, ia kehilangan dukungan dan legitimasi sebagai presiden. Ia dilengserkan oleh Soeharto yang mengambil alih kekuasaan melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tahun 1966.
Soekarno kemudian menjadi tahanan rumah Orde Baru yang dibentuk oleh Soeharto. Ia dipindah-pindahkan dari satu tempat ke tempat lain, seperti Istana Bogor, Batu Tulis, dan Wisma Yaso.
Ia dilarang bertemu dengan teman-temannya yang kebanyakan merupakan tokoh politik kala itu. Ia juga sering diinterogasi oleh Kopkamtib yang mencoba mengetahui keterlibatannya dalam G30S PKI.








